Reviving Compassion

At the time of a greater human connectivity, one thing seems to start lacking in each of us, compassion. Why did I arrive at this conclusion so willingly? A mere observation of how people are acting around me. At the age of superficiality, promoted by social media and the internet, there are people who show the best of their imagery may it be in real pictures or in their statuses, tweets and comments. At the same time, there are people who profoundly show the worst of their human traits, the hateful, prejudiced, and condescending ones.

Both behaviour, in my humble opinion, rooted in nature of internet users isolation. probably many studies has shown, that in the save bastion of one’s home and in the guise of anonymity, brazen insult does not seemed like a bad thing at all, compared to the ones that fly straight out of one’s mouth. But the pain inflicted upon others are real. So real that many people stopped talking to each other.

Even the egalitarian nature of the internet can sadly goes wrong. Being a person in the internet realm, you can send your most hateful comments to anyone. Some countries regulated this type of hate speech under their laws, that sometime leads to censorship, the exact opposite of what internet is supposed to be.

Now what are we suppose to do to encourage more positive outcome of our online time? Ironically I would suggest to disconnect. Stop being omnipresent online, reconnect with humanity, real ones that is. Get together with our friends and family without bothering to pose for a picture for later posts. Immerse in the reality, in the sounds, sights, smells of the real world. Refresh our social skills, and learn to understand people more. On top of everything, just be thankful that we are still alive to experience it all….

Taksi Jakarta

Fiuh, beberapa hari ini saya kudu naik taksi buat mobilitas. Sebab tank yang biasa dipake udah gak bisa ditolak lagi harus turun mesin (akhirnya), air radiator udah ngerembes masuk ke ruang bakar lewat paking cylinder head yang udah bocor. Saran dari mekanik, lebih baik jangan dipake daripada terjadi water hammer *waduh*

Ada beberapa informasi yang didapet dari hasil ngobrol sama pengemudi taksi (kebiasaan iseng ngorek informasi). Mulai pengemudi baru ampe yang udah lama, khususnya taksi BB.

Info pertama, taksi seharian muter-muter di Jakarta rata-rata konsumsi bensinya 20 literan, kira-kira setengah tangki bensin mobil dan selalu diisi penuh waktu pulang ke pool sambil pemeriksaan kondisi mobil. Jadi waktu besoknya dipake, udah tinggal jalan aja. Trus gimana kalo seandainya sampe bensinya habis? Padahal belum waktunya pulang ke pool. Si taksi boleh mengisi bensin di pool terdekat dari posisi terakhirnya. Tapi kejadiannya (kata pengemudinya) sampai dengan saat hari itu dia mengemudi belum pernah terjadi.

Continue reading “Taksi Jakarta”

You Are What You Write

Consider this: the only thing anyone knows about you on the Internet comes from what you write, or what others write about you. You may be brilliant, perceptive, and charismatic in person—but if your emails are rambling and unstructured, people will assume that’s the real you. Or perhaps you really are rambling and unstructured in person, but no one need ever know it, if your posts are lucid and informative.

Devoting some care to your writing will pay off hugely. Long-time free software hacker Jim Blandy tells the following story:

Back in 1993, I was working for the Free Software Foundation, and we were betatesting version 19 of GNU Emacs. We’d make a beta release every week or so, and people would try it out and send us bug reports. There was this one guy whom none of us had met in person but who did great work: his bug reports were always clear and led us straight to the problem, and when he provided a fix himself, it was almost always right. He was top-notch.

Now, before the FSF can use code written by someone else, we have them do some legal paperwork to assign their copyright interest to that code to the FSF. Just taking code from complete strangers and dropping it in is a recipe for legal disaster.

So I emailed the guy the forms, saying, “Here’s some paperwork we need, here’s what it means, you sign this one, have your employer sign that one, and then we can start putting in your fixes. Thanks very much.”

He sent me back a message saying, “I don’t have an employer.”

So I said, “Okay, that’s fine, just have your university sign it and send it back.”

After a bit, he wrote me back again, and said, “Well, actually… I’m thirteen years old and I live with my parents.”

Source: http://producingoss.com

Do our brain sends distress signal?

Yup! I mean it! Berdasarkan beberapa pengalaman pribadi, ceritanya gini… beberapa tahun yang lalu, 2 atau mungkin 3. Saya mimpiin temen saya yang tinggal di US. Ambience dalam mimpi saya itu gelap, atau malah item putih ya? Lupa juga detailnya. Esoknya saya email deh tuh temen saya. Lama gak di jawab, when she finally answered my email dia cerita bahwa dia baru mengalami kesedihan yang luar biasa.

Dia bercerita bahwa di sana memiliki teman akrab yang sakit (cancer? Lupa juga). Si temen saya ini mendampingi temannya itu dari mulai sehat segar bugar sampai hari dimana si orang ini tidak berdaya dan akhirnya meninggal. Temen saya cerita, hal itu sangat menyedihkan hatinya. Lalu saya berpikir, waw …ternyata dia mengirimkan distress signal yang saya tangkap disini. Terpisah ribuan kilometer, namun saya tetap bisa merasakan kesedihan yang dia pancarkan. Cerita yang model begini saya alamin beberapa kali sama dia. Tapi pernah juga saya mimpiin dia karena kangen aja. Dianya mah baek-baek aja.

Pengalaman lain. Ada seorang sahabat saya juga. Kami satu SMP dan SMA. Waktu kuliah kami beda Universitas dan sempet loose contact. Dia lalu menikah sama orang luar, dan tinggal di negara suaminya. Saya beberapa kali mimpiin dia. Sama kayak mimpi saya di paragraf atas, somber tones, gelap, hujan, dia di seberang jalan memakai pakaian hitam-hitam, memegang payung hitam. Saya waktu itu gak bisa kontak dia. Saya gak tahu alamat dan telepon dia di sana. Emailnya juga mungkin sudah berubah karena gak ada jawaban.

Lama berselang saya mimpiin dia lagi. Kali ini dia tersenyum. Duduk sama saya di sebuah mesjid, dia seakan bilang ‘I am OK now’. Kali ini saya gak mau tinggal diam. Saya telepon rumah orang tuanya, saya harus tahu keberadaan teman saya ini. Nekad aja ah tanya sama mamanya. Toh kalo firasat saya salah, malah lebih bagus kan? Means she is fine. Ternyata yang angkat teman saya sendiri. Dia malah kaget, dia gak nyangka kalo saya tahu dia udah pulang ke tanah air. Saya bilang kalau saya gak tahu, saya cuman nekad aja mau nanyain kabar dia ke mamanya. Lalu cerita panjang lebar lah dia … pokoknya sedih dan menyakitkan, namun sekarang dia udah baik. Waw … waw… Kalo saya boleh berhipotesis, nampaknya distress signal ini ketangkep sama orang-orang yang sayang sama kita walaupun gak ada ikatan darah. As for those two, saya sayang banget sama dua-duanya. Sahabat saya di SMA.

Kalo distress signal yang ketangkep sama orang-orang yang blood related yang pasti sih ibu. Kalo saya lagi susah, pasti beliau menghubungi saya. Oya satu lagi, Nanny saya (yup … I’ve got a nanny and she still lives with my mother up to this day). Beberapa waktu yang lalu (belum lama) saya sakit diare. Duuh gak banget deh, gara-gara jajan kue cubit. Kekekek saya masih ASI eksklusif-in Nanda waktu itu. Lemesss luar biasa, cairan apapun turut keluar. Menderita banget deh, masih kasih ASI, diare. Pokoknya status bodi  gak karu-karuan. Pas jam 3 pagi saya udah mau pingsan rasanya. Cuman bisa berdoa aja, ya Allah toloooong …ini sakit sekaliiiii (lemes maksudnya). Keesokan harinya nanny saya telepon. Eh kamu kenapa sar? Hehehe saya bilang kalo saya diare. Terus dia cerita kalo mimpiin saya jam 3 pagi. Dalam mimpi itu saya pake celana pendek katanya, yang dia simpulkan bahwa saya sedang dalam keadaan susah. Ya saya jawab, iya. Lagi sakit, dan puncak rasa sakit dan putus asa itu ya pas jam 3 itu. Hohohoho .. spooky? Kekekekekekeke don’t be. Jadi inget novelnya Dan Brown lost symbol yang cerita tentang noetic science. Hohohhoho hohohohho kalo ada penelitian, pengen juga ikutan. …

It’s your dream Job, but not your Dream title

Hayo ngakuuuuu … berapa banyak dari kita yang cinta sama pekerjaan kita?
Definisi cinta? kasarnya gini biar kata harus nempuh macetnya Jakarta yang nggilani, tetep dibela-belain tiap hari masuk kantor tepat waktu. Biar boss bilang suruh overtime tiap weekend tetep nyengir seneng. Biar udah di rumah tetep mikirin apa yang bisa gue kerjain buat besok di kantor. Berharap nggak ada yang namanya weekend, karena ya itu you love your job!

Tapi kalau jawaban kita masih:

… Ampuuuun bete deh gue macet-macetan tiap hari!

…. Uuuhhh si nenek sihir *maksudnya ini boss* udah dateng duluan lagi!

… Uuuugh gue pengen weekend forever deeeehhh!

… Bulan ini bagusnya gue bolos pake alesan apa yah biar gak obvious?

Heheheheehhehe …kayak katanya Rene Suhardono. Your job is not your career. Kalo jawaban kita idem sama paragraf diatas mungkin aja kita emang gak cinta sama pekerjaan kita. “Gile! Gue cinta lah Sar sama kerjaan gue, orang gue dibayar 10 juta tiap bulan”. Ow really? It’s that all that comes down to you? Duit? Well kalo kepuasan ditentukan sama duit yang masuk rekening pribadi ya mangga wae lah.

Coba deh direnungkan kembali, yang kita cinta itu pekerjaan yang kita lakukan, atau image/atribut yang melekat pada pekerjaan itu? Beda yaaa …
Masih bingung? Gini deh saya kasih contoh. Judul diatas diambil dari kata-kata Gregory House yang bilang sama salah satu dokter yang mau dia pekerjakan. Orang ini ternyata dokter aspal. Well dia sebenernya auditor mata kuliah kedokteran. Jadi dia hapal luar kepala semua jenis prognosis, diagnosis, teori yang dipelajari oleh seorang dokter. Tapi tetep dia bukan dokter, karena gak pernah praktek. Nyuntik aja gak bisa. Eniweiii … intinya adalah ketika dia insist untuk di hire sama House, si dokter brandal ini bilang
“Boleh, tapi elo tugasnya hanya ngurusin masalah administrasi, paperwork, etc sama nyiapin kopi gue tiap hari”. Tentu aja si dokter aspal ini protes. Gak ah! Terus si House bilang, kalo elo mau jujur sebenernya pekerjaan yang gue tawarin itu adalah your dream job (assisting si House, diskusi, serta ya itu paperwork), but not your dream title.

Hahahaha disini saya mikir bahwa bener juga ya. Terkadang kita terpukau sama title dari sebuah pekerjaan, bukan tugas yang diemban oleh pekerjaan itu sendiri. So, udah yakin kalo your job is your dream job? Kalo belom, yok eksplorasi lagi. Jangan takut terhadap hasil yang akan ditemukan. Hohohoh

Hidupppppppppp!!!!!

Hahahahaha …akhirnya!!! Setelah mati suri beberapa waktu (sigh) di block ama mbah Google pula! akhirnya blog Ganesha hidup kembali. Blog ini sempat terlantar karena banyak banget yang baru terjadi di kehidupan kami. Saya baru melahirkan anak ke dua bulan Oktober 2009 kemarin, Mas Yudi sibuk banget dengan penutupan kantor (Yup! dengan berat hati akhirnya Bengkel harus ditutup). It’s been hectic and super crazy and not to mention the emotional roller coaster ride.

But life must go on kan?! We’ve still got a full life ahead of us. Doakan ya!!!!!! Kami sedang menata kembali kehidupan kami untuk hari esok yang lebih baik (sounds like tag kampanye presiden gak seh? Hoohohohoh).

Cheers

Keluarga Ganesha

On Iseng: Pencahar Alami

toilet-paperNah loh. Kenapa tiba-tiba mau nge-post tentang pencahar? Hehehehe mau sharing aja. Saya tuh bukan tipe orang yang bab-nya lancar. Ngiri kalau ngeliat mas Yud yang urusan bab super lancar. Dibilang susah bab sih nggak juga ya. Cuma emang gak tiap hari. Jadwal bab tuh dari jaman dahulu kala selang sehari. Tapi kayaknya ini nih gak bener juga. Baca beberapa artikel kesehatan, yang normal bab tuh terjadi setiap 1 x 24 jam.

Nahhh ..apa hubungannya sama pencahar alami ini? Gini ceritanya … baru-baru ini saya menyadari bahwa ada kombinasi minuman yang selalu sukses bikin perut masuk ke mode auto-flush. Hehehehe. Campuran jitu ini adalah susu murni dan madu. Cukup sederhana kan? Nggak tahu kenapa, tiap kali mengkonsumsi kombinasi kedua jenis minuman tersebut, perut otomatis kayak bersih-bersih. Padahal kalo diminum secara terpisah (susu aja atau madu aja) gak ada efek apa-apa. Lucu juga ya …

Baca beberapa artikel juga yang bilang minum air putih hangat (3-4 gelas) di pagi hari juga membantu memperlancar bab. Besok mau dicoba aaaah … mudah-mudahan jadwal bab jadi lancar tiap hari.

Ngeprint di Google Docs

google_docs_logoPernah nyobain ngeprint di Google Docs? Penasaran gimana caranya biar hasilnya bukan cetakan dari browser (HTML) tapi bener-bener dokumen? Ternyata gini caranya:

So what do you do if you write an online word processor and want your users to be able to print beautifully? Here is what Google Docs does when you click their “Print” button:

  1. Saves your document to the server
  2. Converts it on the server – on the fly – from HTML to PDF
  3. Creates a hidden Adobe Acrobat plugin instance inside the editor tab
  4. Load the newly converted PDF into the plugin
  5. Triggers the Acrobat print dialog

Cobain ah..

BlogDesk

Sedang mencoba BlogDesk nih. Mudah-mudahan ngeblognya bisa lebih lancar lagi. 🙂

Kalo ada yang belom tau BlogDesk , monggo mampir ke websitenya. Salah satu aplikasi desktop untuk nulis blog tanpa kudu browsing blognya itu sendiri. Ok juga untuk saya yang buka blog sendiri aja males. Hihihihihihi..

Yakitate!! Japan

Udah lama nggak posting nih, sibuk maen ama si Kiky. Huehuehuehuehue. Doi sekarang udah mulai aktif banget mainnya, gampang bosen pula. (grin)

Yakitate!! JapanBeberapa bulan belakangan ini kepincut ama serial Yakitate!! Japan di Animax. Ceritanya sih biasa aja tukang bikin roti-rotian dari macem-macem bahan. Cuma yang bikin nagih itu karakter orang-orangnya, hiperbola plus uaaaaaneh pisan. Ngicipin makanan bisa evolusi jadi Super Sanya II (kaya Songoku di Dragon Ball), trus nongol si detektif Conan, raja Monaco kepalanya singa, en masih banyak lagi. Segala macem anime ikut diplesetin di situ. 😀

Dan setiap selesai nonton, pasti ada rasa laper! Sugesti sugesti..