Reviving Compassion

At the time of a greater human connectivity, one thing seems to start lacking in each of us, compassion. Why did I arrive at this conclusion so willingly? A mere observation of how people are acting around me. At the age of superficiality, promoted by social media and the internet, there are people who show the best of their imagery may it be in real pictures or in their statuses, tweets and comments. At the same time, there are people who profoundly show the worst of their human traits, the hateful, prejudiced, and condescending ones.

Both behaviour, in my humble opinion, rooted in nature of internet users isolation. probably many studies has shown, that in the save bastion of one’s home and in the guise of anonymity, brazen insult does not seemed like a bad thing at all, compared to the ones that fly straight out of one’s mouth. But the pain inflicted upon others are real. So real that many people stopped talking to each other.

Even the egalitarian nature of the internet can sadly goes wrong. Being a person in the internet realm, you can send your most hateful comments to anyone. Some countries regulated this type of hate speech under their laws, that sometime leads to censorship, the exact opposite of what internet is supposed to be.

Now what are we suppose to do to encourage more positive outcome of our online time? Ironically I would suggest to disconnect. Stop being omnipresent online, reconnect with humanity, real ones that is. Get together with our friends and family without bothering to pose for a picture for later posts. Immerse in the reality, in the sounds, sights, smells of the real world. Refresh our social skills, and learn to understand people more. On top of everything, just be thankful that we are still alive to experience it all….

Memeluk Bahagia

happySaya baru aja chat via social media dengan teman kuliah yang udah lama ga ketemu. Kita bicara seputar rumah tangga, anak dan hal-hal yang baru saja terjadi di kehidupan masing-masing. Maklum udah lama ga bersua. Satu hal yang menarik dari pembicaraan kami itu, ketika topik beralih ke arah kebahagiaan dalam hidup, teman saya seperti ‘melompat’ pada kesimpulan bahwa ketika ada satu elemen yang kurang dalam kehidupan rumah tangga kita, maka kita tidak bahagia

Memang dia tidak secara spesifik mengatakan demikian, namun saya dapat menyimpulkan dari kalimat-kalimat pendek yang di ketikkannya pada layar. saya tidak berkomentar apa-apa, hanya memberikan simbol smiley. Saya tidak setuju dengan pendapat teman saya itu, tapi bukan saat yang tepat untuk membahasnya lewat chat sosial media.

Lalu saya mencoba bertanya kepada diri saya, sebenarnya apa sih kebahagiaan itu? Banyak definisi, banyak kata, banyak makna. Namun yang hakiki adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan. Sejatinya, kebahagiaan itu berbentuk ketenangan kalbu kalau saya boleh berteori.

Seseorang bisa saja terlihat berkecukupan, terkenal, rupawan, serta memiliki segudang atribut lain yang saat ini kerap disandangkan dan disejajarkan artinya dengan kebahagiaan. Namun, boleh kita tengok realitas yang ada, segudang atribut itu belum tentu membuat hati tentram. Membuat kalbu tenang.

Dilain pihak, bisa saja seseorang memiliki rentetan masalah, kesulitan hidup yang silih berganti, tetapi tetap merasakan ketenangan dalam kalbunya. Jenis orang seperti inilah yang saya anggap bahagia. Karena kesulitannya tidak menjadikan dia berkeluh kesah, masalahnya tidak menjadikan dia ‘hilang’ arah.
Lalu, bagaimanakah orang-orang ini dapat mencapai ketenangan jiwa begitu rupa? Apa yang hadir dalam hidup mereka? Apa yang mereka yakini? Apa yang membuat mereka bertahan? Nampaknya itu suatu hal yang mesti kita pertanyakan pada diri kita sendiri.

Rasanya bila kita sudah mampu mendefinisikan kebahagiaan sejati, sebagai konsep yang kita yakini dari hati, baru kita bisa bicara ke tatanan yang lebih rendah atau aplikasinya. Karena bila kita sendiri tidak tahu dan tidak sadar akan makna kebahagiaan itu sendiri, maka kita akan tersesat dalam mencari kebahagiaan.

Kita mengejar materi yang melimpah ruah, menghabiskan puluhan jam bekerja, untuk mencapai kebahaagian yang kita sangka berwujud finansial dan materi. Namun ketika kita sampai disana, kita merasa hampa. Karena sejatinya, belum tentu ini yang menjadi sumber kebahagiaan kita. Bagi orang lain, mungkin kecukukan materi sudah memenuhi kriteria kebahagiaannya. Namun belum tentu buat kita. Oleh karena itu, tentukanlah kebahagiaan kita, sebelum kita bergerak ke level aplikatif, rasakan dengan sebenar-benarnya, apa sesungguhnya yang membuat kita bahagia.

Apakah hati kita sudah penuh dengan kebahagiaan ketika kita berkumpul dengan keluarga? Merasakan hangatnya sinar mentari? Menghirup udara segar?

Walaupun terdengar sangat naif, tapi saya kira secara mendasar manusia sudah merasakan kebahagiaan dengan hal-hal kecil yang penting dalam hidupnya. Jadi, jangan sampai kita salah menilai bahwa hal-hal yang sifatnya pelengkap sebagai syarat utama kebahagiaan. Sudah cukup kita belajar berulang-ulang dari orang-orang yang mengalami kemalangan hidup hanya karena orang itu salah menempatkan dimana kunci kebahagiaannya.

–sari

Can’t Launch GCompris on Natty – Guide For Noob Mom

I upgraded my son’s PC from Maverick to Natty. After upgrade process, turns out that his favorite education suite, which is GCompris, can no longer run on Natty. The application menu and the shortcut doesn’t work. This was probably caused by the switched from Gnome to Unity as the default desktop environment.

In my case, the application is still installed (some people have reported bugs after upgrading that removed the application or some part of it), but it won’t lauch. So, after some googling I found information from here that the application can run via the terminal command. Great! I try it and tadaaaa … it works.

I know that my son won’t be able to run GCompris via terminal (yet). So I decided to create a launcher on the Desktop. Here’s how

1. Right click anywhere on the Desktop and click Create Launcher …

2. Fill in the Name box with “GCompris”

3. Fill in the Command box with “gcompris &”

4. Klik OK

That’s IT! My son is napping now, I hope he will be excited when he wakes up this afternoon finding his favorite application back.

Updates! Curhat!

Hihihihi …. gaya banget yah judulnya

Ehemmm….. memang blog ini rada-rada terlantar ya. Duhhhh … untung ada sahabat saya yang ngingetin untuk update. Hihihihi thank’s Ris.

Sebenernya, ide untuk nulis itu banyak datang, tapi biasanya datangnya jam segini nih, dini hari, dikala the krucils udah tidur, nyenyak dan saya bisa berlama-lama di depan PC. Tapi biasanya saya pun udah terlelap jam segini karena capek seharian main sama anak-anak.

Okelah, saya mau update sedikit tentang the Ganeshas, kami semua baik-baik saja, alhamdulillah … saya dan mas Yudi masih terus belajar untuk menyesuaikan diri dan berkembang bersama anak-anak kami. Kalau boleh saya curhat, satu hal yang paling berat dilakonin sebagai orangtua adalah memberikan contoh yang baik.

Hehehehe … ternyata gak gampang ya untuk melakukan sesuatu itu ‘dengan benar’ sebagai contoh, setiap berangkat ngajar, jika naik kendaraan umum, saya harus memaksa diri untuk turun di halte yang jaraknya masih sekitar 200 meter dari kampus. Kenapa? Walaupun bisa aja berhenti di tengah jalan dan langsung nyebrang ke arah kampus seperti yang dilakukan oleh orang lain, tapi saya berkata sama diri sendiri dan mencoba untuk menyemangati diri, “kalau saya gak melakukan hal yang benar … bagaimana saya bisa mengajarkan anak-anak saya akan hal yang benar?”

Semangat itu pula yang saya tekankan di kepala saya setiap kali ada pilihan antara ‘the quick and easy‘ dan ‘the right thing to do‘ dalam melakukan apa saja. Jangan sampai, karena keinginan saya untuk cepat dan mudah, saya mengabaikan fakta bahwa apa yang saya lakukan akan ditiru dan diulangi oleh anak-anak saya. Bicara tentang meniru …. aduhhh anak-anak ini adalah jagoannya dalam menyerap apa saja yang ada di lingkungan mereka. Mereka ini bagai sebuah spons super besar yang menyerap apa saja, baik maupun buruk dari orang-orang dan lingkungan mereka.

Ternyata tidak mudah untuk selalu menyadari bahwa ada ‘penyerap informasi’ aktif … yang memperhatikan serta meniru apa saja yang kita lakukan. Setelah saya menjadi ibu, saya sadar banyak sekali hal-hal yang tidak saya lakukan dengan ‘benar’. Hal inilah yang selalu menjadi tantangan bagi saya, untuk saya perbaiki sedikit demi sedikit agar anak-anak saya nanti bisa mencontoh dan (harapan saya) menjadi manusia yang lebih baik daripada saya. Menjadi orangtua ternyata juga menjadi proses untuk  ‘belajar kembali’ akan banyak hal dalam hidup….. =)

Beyond Diapers Changing (To the husband and father)

Tulisan ini sangat mengena banget nih … saya ambil dari Notes di FB milik Pak Ebi Junaidi. Notes aslinya ada di sini

Masih ingat ndak malam-malam sepulang kerja dan rumah seperti kapal pecah, berantakan dan kotor. Berharap bisa “meluruskan punggung”, tapi ternyata anak-anak malah belum tidur dan merengek minta ini dan itu, termasuk digendong, diangkat sampe mencapai langit-langit rumah. Berkeinginan ada setidaknya secangkir teh hangat dengan madu dan sedikit lemon would be perfect. Kadang terbit khayalan di rumah istri sudah dandan poll dan menyiapkan air hanget untuk mandi dan message oil beraroma terapi dan siap memijat badan yang pegel-pegel sepulang kerja. Mendamba a decent food untuk mengisi perut yang kosong karena saking sibuknya ndak sempat makan di kantor. Atau sesederhana sang istri bertanya “how was your day?”, “have you got dinner?”. Atau…..punya ekspektasi untuk begitu pulang bisa penuh konsentrasi dengan baju rumahan yang lebih nyaman bisa segera menghadap laptop menyelesaikan kerjaan yang deadline besok pagi, jadi semua akan mahfum jika kita akan khusuk di meja kerja, ruang baca atau apapun yang jadi “gua sakral“ sang penopang keluarga.

Kadang kita, laki-laki, apalagi yang punya istri full sebagai ibu rumah tangga, berfikir (kasarnya) “Hellooo….gw udah capek kerja di kantor…kok di rumah ndak bisa nyantai-nyantai sich…. Ndak tahu apa capeknya kerja, tekanan deadline, harapan bos, kejamnya office politics, and not to mention performance appraisal yang kudu nentuin bonus.” Toch itu semua khan buat keluarga. Istri dan anak-anak…buat mastiin kredit rumah dan mobil bulan ini terbayar dan bisa nyekolahin anak di sekolahan yang katanya bagus dengan biaya pendaftaran bisa beli dua motor keluaran terbaru dan liburan ke tempat-tempat eksotik. Dan sang istri khan “cuma” ngurusin satu dua atau hitungan jari anak lainnya. “Why can’t I please get a bit of the so called support?” “Didn’t I deserve it after what I did out there in the office?” And didn’t she know that the world is so much tiring out there?

Kebanyakan kita, para suami dan ayah, berfikir it is just easy to be a woman-in-charged at home untuk istri kita. And yes… isn’t it part of their nature installed as they give a birth to a child or even worse isn’t it something natural in their gene? Hehehe.. They are borned to be those who handle all those things at home and yet have to be  very representable to be introduced as our wife to our respective colleagues. Kedengarannya selfish, sangat patriarki, non-feminis atau disebut apalah, tapi memang disebagian kita sering muncul fikiran seperti itu….. terlintas…..dibisikkan setan ataupun merupakan kepercayaan umum di masyarakat kita.

Saya mendapatkan previllage oleh Allah untuk merasakan sebagai person-in-charged di rumah and how hard it is to handle things at home. I have to admit, this is the very most harderst work I have ever took. Sederhananya, sebulan pertama, saya selalu KO tepat jam 6 sore, kadang tanpa sempat menyentuh makam malam. Badan sampai ndak bisa bergerak seperti habis “training session” weight lifting club dulu waktu mahasiswa di Melbourne. Nyaris ndak bergerak sama sekali hingga subuh keesokan paginya. Padahal waktu itu wawa masih sekolah, jadi dari jam 8.30-4.30, nyaris hanya butuh menjaga Qiyya yang berusia 1 tahun 3 bulan. Secara fisik, cuapek poll…mulai nyiapin dan makein baju wawa sekolah, sarapan pagi bocah-bocah, antar jemput ke sekolah (untungnya disini bapak2 antar jemput sekolah adalah pandangan yang biasa, jadi ndak kudu merasa aneh laki sendirian di tengah omak-omak Prancis ;)), bersih ini dan itu,  pengen masak enak (walaupun anak dan istri ndak pernah mensyaratkan rasa tertentu, di kamus mereka hanya ada 2 kategori: enak dan enak sekali, Alhamdulillah), rutinitas masukin baju ke mesin cuci, jemur, angkat, belanja harian ke marche, nyiapin dan kadang nyuapin makan siang Qiyya. Semuanya kedengaran biasa dan simple, tapi melakoninya..sungguh mendingan nyetir seharian sampai malam dari Bogor keliling Jakarta ngurusin semuanya tetek bengek beasiswa sebelum keberangkatan atau ngajar seharian penuh, plus naek kereta ke salemba ngejar ngajar extension.

Secara mental…ini yang berat banget… I mean kerjaan ini ndak ada yang bakal ngelihat performance, tampil di publik atau at least dihadapan mahasiswa, jadi kelurusan niat dan keihklasan jadi tameng yang paling kena serang. Tapi yang paling berat adalah berhadapan dengan anak-anak yang ndak selalu mereka manis dan manut. They simply sometimes just being unique. But you sometimes found  that they are challanging you, testing you. Nangis ndak mau sekolah, pipis dan pupup dimana aja dan sesuka kapannya, numpahin A, B atau C ke pakaian terbaik kamu, atau menghancurkan mainan yang dulu adalah mainan idamanmu waktu kecilmu tapi ndak pernah kamu miliki dan membelinya dengan nabung dulu, ndak mau ndengarin kata, perintah, saran, nasehat ayahnya (come on hey…they are just kid, not adult like your teaching assistant or secretary, for God’s sake). But again, you sometimes just can’t handle it when you feel you’ve been telling them thousand of times and why in the world they don’t get it? Belum lagi kalo you feel being humiliated in public, because they don’t want to use the seat belt in your friends’ car, they cried out loud at school and don’t behave they are “supposed to be expected” or do things one way or another just make you feel embarrased. But the worse ever is when once you lose you control, not necessarily hurting them with your hand (Allah…please never let me ever once commit it to my love ones),but a higher tone of voice or a thread or simply when you just run somewhere and hit something just to lose your emotion without your kid’s notice. And….several minutes after…it was just penyesalan yang amat sangat dalam. Rasa bersalah yang sangat mampu membunuhmu. Dan perasaan that “I am not a good father”… and hantaman-hantaman realitas bahwa mereka begitu karena kita yang memberikan contoh yang tidak baik, lingkungan yang tidak mendukung dan gen yang mengalir dalam darahnya. Bukannya mereka terlahir fitrah…. But again,semuanya serasa mudah dan remeh sekali rasanya, kok bisa mengatakan ini sangat emotionally-tiring? I tell you bro…. ketika melakoninya dunia ini seakan tertutup dan logika orang dewasa yang cerdas manapun kadang kalah oleh kejengkelan yang membakar kepala. Kalo ndak ingat betapa Rosul sayang sama anak kecil, yang bahkan menegur orang tua yang “merenggut’ anaknya dari gendongan Rasulullah karena buang air kecil di pangkuan Rosul (dengan mengatakan, Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”) rasanya udah keluar Medanku ini hehe ;). Dan ketika itulah jika pasangan tiba2 menghubungi (dgn nelpon atau apalah) rasanya terselamatkanlah diri dan anak-anak ini (sekarang dech baru bisa  mengerti, kenapa si bunda minta di telpon kalo lagi senggang di kantor, atau tiba-tiba nelpon pas kita lagi repot2nya kerja). But omak-omak sedunia, man are not having those multitasking brain, jadi juga jangan berkecil hati kalo mereka cuma menjawab he-eh, iya…as if they don’t put their full attention to your need-to-be-rescued-call ya…

And for bapak2 sedunia, we are not having those previlage of having multitasking brain, but we do have multi-windows  heart (apa pulak lagi artinya ini), use it wisely! 😉

Then I learn that, something small can be so meanigful for those who’ve been at home 24/7. hadiah umpamanya, surprised2 ringan. Oh ya, Rasulullah membiasakan kalau keluar kota, dalam perjalanan yang agak jauh, beliau pulang membawa oleh-oleh sebagai hadiah untuk istri beliau. Pernah Rasulullah saw. tidak ada yang bisa dibeli, kemudian beliau mencari batu di padang pasir terus dibersihkan, dirapiin, terus dikasihkan kepada Aisyah.

Nabi juga ngerjain kerjaan rumah. Nah ini yang terasa sekali. Most of the time, ketika pulang kita malah minta dilayani, bukan membantu melayani. Weekend dan hari libur jadi “me-day”…hehehe. Padahal Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari).

Kalo begini jadi ingat babak (panggilan untuk Bapak di keluarga kami), yang merantau kemana-mana (hingga jadi TKI gelap di Malaysia) demi mamak dan kami anak2nya. Dan dia setiap sebelum berangkat kerja menyapu rumah, kadang ikut nyuci berdua mamak di hari minggu. Belum lagi waktu mamak lumpuh dan aku masih kecil sekali (kata tetangga waktu itu aku seperti bayi Ethiopia yang amat sangat cungkring tak berpan**t, sampai dipanggil si pan**t tepos, dan pernah ketemu lagi dgn tetangga itu yang terkejut melihat saya bisa tinggi dan punya hidung besar ;)) , harus masak, memandikan mamak ke kamar mandi dengan menggendongnya, menyuapinya sebelum berangkat ke tempat kerja. Untuk ukuran laki-laki padang jaman bahela (pariaman lebih tepatnya!) yang bahkan pemandangan laki-laki menggendong anak saja sudah sangat berkurang kemaskulinannya (ini tahunya dari tante Eva mathon ;)), apalagi minimnya contoh (kakekku seorang yang “terpaksa” memiliki istri 12 karena beliau diminta sama orang2 diberbagai kampung untuk menikahi anak-anak mereka (well, dia pendekar, jadi orang-orang ingin bermenantukan dia untuk melindungi keluarganya dan menigkatkan “gengsi” keluarga. walaupun nenek adalah yang selalu menjadi utama. Oh ya, nenek gw juga pendekar, surprisingly, dan punya rekor mengalahkan laki-laki2 biadab yang hendak menyerobot warisan kakek hingga mereka terpu**p-p*p*p…ah inimah nanti aja ceritanya, di epik yang lain kali ya…), apalagi kata orang-orang dia tampan, putih, tinggi, jago silat (kalo kataku lebih dari itu…tapi btw, kok ndak ada nurun2nya ke gw ya… hicks!), dia sudah memberikan contoh yang sangat cukup untukku. Love you, babak….very much (andl love my mamak even more ;)).

Anyway, cukuplah dua nasehat ini menjadi pelita dalam kegelapan (aduh…jadi ingat lagu hymne guru ye…) sementara mencari-cari ilmu lainnya:

1. “Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya (HR. At-Trimidzi)
2. Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”.

Makanya sayangilah banget2 istri yang ibu rumah tangga….. lebih sayang lagi kalo suaminya yang sementara jaga kandang ngurusin rumah…,.nah lho…hehehe

Untuk Ayah

Ehem ….

Sambil nunggu ayah pulang dari kantor, ibu mau curhat.

Ayah … maaf ya kalau ibu kadang berwajah be te di akhir hari. Kadang ibu suka lupa bahwasanya ayah sama capeknya dengan ibu. Setelah seharian ngurusin anak-anak, ibu suka ngerasa enak banget deh jadi ayah di kantor yang enggak harus berhadapan sama riwehnya membesarkan kedua buah hati kita. Sama riwehnya pekerjaan rumah tangga.

ibu lupa …

bahwa dikantorpun ayah pasti nemuin masalah. Nemuin klien yang nyebelin, dengerin omelan *curcol* nya pak MYU (ehehehehe pisss pak) serta seabrek gak enak hati lainnya.

Namun, setiap ayah pulang kantor, selalu tersenyum, selalu terlihat senang, walaupun matanya terlihat lelah. Ibu jadi malu ….

Kok ibu berasa banget yah bahwa ibu adalah orang yang paling capek. Padahal kita sama-sama capek ya yah. Energi kita terbatas, tapi rasanya tugas yang harus kita lakukan tak berujung. Selama hampir lima tahun pernikahan kita, ayah gak pernah marah sama ibu. Paling banter hanya negur, itupun dengan santun. Ah ayah …. padahal ibu kalo marah sama ayah, manyunnya bisa kelihatan dari Monas. Jadi ibu mau bilang …

Maafkan daku cinta ….

Maafkan karena ibu udah merasa ‘GR’

GR paling capek

GR paling riweh

GR paling be te

GR paling suntuk

GR paling bosen kalo Kiks n Nan wawel …

Ibu juga mau bilang terimakasih

untuk kesabaran ayah …

untuk pengertian ayah …

untuk kasih sayang ayah …

untuk dukungan ayah …

Ibu merasa sangat beruntung berjodoh dengan ayah…

I love you … Heryudi Ganesha

Antara Cinta, Cinta dan Cinta ….

Saya mau curhat,

Sudah hampir satu bulan ini saya kembali mengajar. Dalam seminggu, dua kali saya harus meninggalkan anak-anak saya di rumah. Sedih juga rasanya harus meninggalkan buah hati saya di rumah. Nampaknya saya ini bukan tipe wanita karir yang mampu berkuat hati untuk meninggalkan anak-anak. I’m a marshmallow, I melt easily with the warmth of my children’s embrace. Hiihihihih ….

Di lain pihak, saya CINTA sekali mengajar. Mungkin kalo saya boleh pinjem istilahnya René Suhardono, mengajar is my passion! Berdiri di depan kelas, berdialog, berbagi, menerima umpan balik, ah mengingatnya saja saya merasa berpendar. Ketika tawaran untuk mengajar secara tetap datang, I’m torn in between. Kalo boleh saya analogikan, mengajar itu cinta pertama saya, sementara anak-anak adalah love of my life. Ah …

Ketika saya berdiskusi dengan suami tercinta, seperti biasa, jawaban beliau adalah senyum yang paling hangat sembari berkata bahwa keputusan ada ditangan saya. Melalui mata suami saya, saya merefleksikan kembali apa yang menjadi komitmen kami di hari kami berdua memutuskan untuk menikah. Membina keluarga, dimana setiap anggota keluarga adalah yang pertama dan utama. Hm…

Berat … tapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak segera menerima tawaran tersebut. Saya hanya berharap, tawaran itu akan ada di hari saya siap untuk kembali keluar sana untuk berkarya penuh. Oh cinta pertama … tunggulah saya!!!!

Taman Bermain Kiky

Iyaaaaaaa … sekarang Kiky udah sekolah lhooooo. Di TK Wahyu, Jakarta Selatan. Lokasinya dekat dengan kompleks Deplu tempat tinggal kami. Ceritanya ketika memasuki usia 2.5 tahun, saya dan mas Yudi sepakat untuk mengenalkan Kiky dengan lingkungan, mengajarinya untuk berinteraksi dengan anak usia sebaya. Di rumah teman main Kiky ya saya, ayahnya, tante-tantenya tersayang dan Eyang Ti dan Kung.

Selain kami yang dewasa-dewasa ini, teman main Kiky adalah PC. Wahhhh ketika suatu hari saya mendapati dia seharian di depan PC dengan berbagai macam game, timbullah perasaan bahwa anak ini mesti berkenalan dengan anak usianya. Selain itu saya khawatir (ibu-ibu selalu deh …) akan perkembangan motoriknya kalau dia hanya terpaku di depan PC nya. Akhirnya setelah mengunjungi beberapa sekolah yang ada di area sekitar rumah, kami memutuskan untuk memasukkan Kiky di TK Wahyu. Lokasinya dekat dengan tempat tinggal kami dan suasana sekolahnya juga baik. Setelah beberapa kali bertemu dengan para guru dan pengelola, akhirnya Kiky kami daftarkan disana.

Seperti yang saya duga, Kiky canggung ketika harus bermain dengan anak sebayanya. Yang biasanya ‘B’ banget di rumah, di sekolah dia mendadak jadi pendiam dan minta ditemenin sama saya terus. Hohohohoh … namun setelah satu bulan sekolah, dia sudah mulai berani.  Karena setiap sekolah saya yang antar, sekalian saya dokumentasikan deh temen-temen sekolahnya Kiky. Inilah mereka

Yang manis ini namanya Razan, sama pemalunya sama Kiky. Heheheeh anak ini suka sekali main perosotan

Yang ini Zahia, rambutnya keriting kriwil-kriwil dan lucuuu sekali. Anak yang pemberani dan sangat ekspresif. Lucu banget deeeehhh.

Yang ini namanya Fakhri. Super aktif dan merupakan ‘jagoan’ nya kelas. Berdua sama Zahia. Hihihihihhi

Nona kecil ini namanya Libby. Panggilan saya untuk si manis ini adalah ‘asisten bu guru’ karena Libby pintaaar dan siap sekolah bangettt. Mengikuti semua instruksi  guru, aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelas, pokoknya model A-graded student deh. Hihihihih empatinya juga tinggi terhadap teman-temannya. Kalau ada yang menangis di kelas, pasti dia yang sibuk cari tissue dan mengusap air mata temannya tersebut. Aaaawsoooo adorable.

Yang ini namanya Sarah. Awalnya sama pemalu seperti Kiky. Kalau tahu mbaknya jauh, dia akan menangis. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat sangat ceria dan ndak menangis lagi kalau ditinggal sama si mbak.

Satu lagi teman Kiky, yaitu Farel. Gak ada fotonya karena si kecil ini ndak masuk di hari saya ngambil gambar-gambar ini. Kiky sukaaa banget sama si Farel ini, teman bermain dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Pokoknya mulut Kiky akan selalu bertanya kalau temannya yang satu ini belum datang. Hiihihihihi, segitu dulu deh ceritanya, nanti saya sambung lagi. =)

Welcome Hernanda

Ehm ..ehm… udah telat banget sih, mau ceritain kronologis kelahirannya Nanda. Maklum, baru belajar jadi ibu untuk kedua anak ini. Ditambah lagi blog ini sempet padam dari dunia internet selama beberapa waktu, hihihii pokoknya banyak deh alasannya. Ok deh, gini ceritanya…

Si Nans di perkirakan lahir pada tanggal 28 Oktober 2009. Tapi pas seminggu sebelum hari kelahiran, pas kontrol ke obgyn beliau bilang, ” kok posisinya masih sama ya sama minggu kemarin? Belum turun lagi”. Sang obgyn melirik padaku dan bertanya, ibu banyakan santai ya? Hohohhohoho langsung ketahuan deeeeeeh. Emang pas hamil Nan, perasaan kok rada males yah ngapa-ngapain. Bawaannya lebih ngos-ngosan daripada hamil kakak Kiks. Walhasil, olahraga pun lebih males *duh jangan ditiru yah ini*.

Ibu obgyn pun berkata, kalo sampai tanggal 28 belum ada tanda-tanda melahirkan, check in tanggal 29 pagi ya. Kita induksi aja. Pertimbangannya si Ibu obgyn ini karena kehamilan udah full term, 40 minggu dan si Nan beratnya menurut data USG udah sekitar 3.3 kg. Wegh … nasib. Waktu kakak Kiks melahirkan juga diinduksi, karena ketuban udah pecah. Mosok adeknya sama juga …yahhhhhh nasiiiiiib. Mas Yud langsung booking deh sama RSPI kalau tanggal segitu mau melahirkan. Kayak orang sectio aja, pake appointment.

Ehhhh …bener juga. Tanggal 28 nothing happened. Ada sih kerasa kontraksi, tapi jaraknya masih 12 jam-an. Belon ada bloody show pula. Halah, ini mah masih jauuuuuuuuuh dari melahirkan. Nasiiiiiib. Ya suds …tanggal 29 Oktober 2009 masuklah daku ke RSPI jam 08.30 pagi. Biasa, siap-siap pra-melahirkan, bersihin isi perut, cek detak jantung bayi dan kontraksi, lalu dipasanglah itu infus untuk merangsang kontraksi. Jam 9 lewat lah mulai diinfus. Kali ini udah pasrah aja, udah bawa buku segala. Waktu kakak Kiks kan induksi pagi, keluar dia jam 2.42 siang.

Jam 10 lewat pagi Ibu obgyn dateng. Menyapaku sambil membawa alat. Apa itu yaaaaaaa? Beliau bilang ini namanya … (lupa!) untuk mempercepat proses melahirkan. Kalo gak salah buat ngelunakin leher rahim gitu. Sebelumnya beliau mau cek dulu udah pembukaan berapa. Ehhhh ternyata udah pembukaan 5. Hohohhohoho gak lama lagi nih. Senyumlah sang obgyn. Hayok melahirkan yuuuk. Wew …………

Mucous plug diambil sama ibu Obgyn dan air ketuban mulai ngucur dikit-dikit. Mulesnya mulai ampun-ampunan deh. Tanpa sadar mulai nyakar-nyakarin tangannya Mas Yud. Jam 11 tepat, keluarlah si Nan. Setelah satu kali ngejen (hohohohoho anak kedua soalnya). Beda sama kakak Kiks, si Nan langsung di taruh diatas dada (kakak Kiks diobservasi dulu karena ketuban udah pecah). Hohoohohoo alhamdulillah …welcome to the world Hernanda Ganesha.Diazanin dan di iqamatin dia sama ayahnya. Lalu dia …pupup!!!!!! Waww …..wawwww…wawwww. Nandaaaaaaaaaaaaaaa …oh Nanda =D

Untuk Para Ibu: Perlengkapan Bayi

Hehe … mendekatibu-kiksi tanggal kelahiran Adeknya Kiky, saya mulai berbenah perlengkapan untuk menyambut si Adek. Berhubung menurut USG dokter jenis kelamin si Adek itu idem dengan kakaknya, yaitu laki-laki, jadi gak banyak yang mesti dibeli ulang. Padahal kalo perempuan, maunya didandanin abis-abisan. Hihihihi …tapi anak laki-laki atau perempuan sama aja kok, sama-sama berkah dari Allah SWT.

Beberapa pakaian si kakak masih bagus, karena memang jarang dipake, paling dipake sekali. Pakaian yang udah agak usang aja yang dibeli ulang, yaitu pakaian lengan pendek sehari-hari sama bedong. Minggu kemarin pergi ke ITC Fatmawati untuk beli perlengkapan ini. Ajak kakak Kiky tentunya. Waktu sampai di tokonya, langsung disodori sebuah print-an kertas berwarna, lengkap dengan logo toko serta alamat. Isi kertas itu adalah semua yup!! hampir semua barang yang kita butuhkan (atau tidak? hihihih) dalam menyambut kehadiran seorang makhluk mungil.

Berhubung ini bukan kehamilan pertama, gak gelap mata lah saya, hahahaha gak ngebayangin kalo yang disodorin calon ibu yang baru pertama kali baru mau punya bayi. Pasti pengen dibeli semuanya deh ..hahahahahaha (gelap mata gitu — kan katanya wannabe parents dan parents adalah konsumen yang paling konsumtif– perlu dicarikan sumber nih! hihihihi). Beli sesuai kebutuhan dan budget, sempet juga ditanyain sama mbak penjaga tokonya mengenai kelengkapan lainnya. Berhubung hampir semuanya udah punya, menyerahlah dia merayu saya. Hahahahaha

Mau tahu list-nya kayak apa? Nih saya digitalisasi. Siapa tahu ada yang perlu! Jangan kaget ya!!! Banyak benerrrrr…

1. Popok 56. Sedotan ingus
2. Gurita bayi 57. Thermometer digital
3. Bedong 58. Botol susu
4. Alas ompol 59. Steril botol
5. Perlak 60. Sikat botol
6. Baju kutung 61. Sabun cuci botol
7. Baju pendek 62. Jepitan botol
8. Baju panjang 63. Dot rubber/silicon
9. Celana pop 64. Rak botol
10. Celana pendek 65. Pemanas susu/ food warmer
11. Celana panjang buka kaki 66. Thermos air panas
12. Celana panjang tutup kaki 67. Thermos makan / lunch box
13. Piyama bayi/balita 68. Container susu
14. Washlap mandi 69. Food maker
15. Sapu tangan 70. Feeding set
16. Sarung tangan kaki 71. Sendok makan bayi
17. Baju set bayi/balita 72. Cangkir minum/ training cup
18. Bantal set bayi 73. Empeng bayi
19. Bed cover set 74. Gantungan empeng
20. Seprei set bayi 75. Dot obat/ suntikan obat
21. Kelambu kojong/becak 76. Blender/ Food processor
22. Topi set bayi/kupluk 77. Slow cooker
23. Selimut topi 78. Tas bayi
24. Sleeping bag 79. Gendongan bayi
25. Bamper set 80. Jemuran popok
26. Sepatu bayi 81. Keranjang baju
27. Kaos kaki bayi 82. Mainan box/ musical mobile
28. Popok plastik 83. Box bayi kayu/lipat
29. Pampers new born 84. Baby tafel kayu/plastik
30. Bak mandi/ember mandi 85. Baby stroller/kereta dorong
31. Jaring ember/jala mandi 86. Kasur box
32. Karet anti slip 87. Kasur baby tafel
33. Handuk 88. Baby monitor
34. Sabun cair/batang 89. Baby walker
35. Shampoo 90. Kursi makan bayi
36. Bedak powder 91. Car seat bayi
37. Baby cream 92. Pispot/ ring closed
38. Baby cologne 93. Baju seragam suster
39. Hair lotion 94. Pembalut ibu
40. Baby oil 95. Kain sarung batik
41. Baby lotion 96. Gurita ibu tali/perekat
42. Alkohol 97. Stagen/bengkung
43. Minyak telon 98. Celana ibu hamil
44. Minyak kayu putih 99. Cream perut
45. Kapas bola 100. Nipple cream/ cream payudara
46. Kain kasa steril 101. Jamu bersalin
47. Alkafil 102. Bra menyusui
48. Peniti 103. Pompa ASI/ breast pump
49. Sisir set bayi 104. Breast pads
50. Sikat lidah 105. Nipple shield
51. Tempak bedak – tempat kapas 106. Shampoo kering
52. Cotton buds 107. Bantal menyusui
53. Tissue basah/baby wipes 108. Baby carrycot/ keranjang bayi
54. Tempat sabun 109. Bouncer
55. Gunting kuku set 110. Baby bather/ baby bath bed