Memeluk Bahagia

happySaya baru aja chat via social media dengan teman kuliah yang udah lama ga ketemu. Kita bicara seputar rumah tangga, anak dan hal-hal yang baru saja terjadi di kehidupan masing-masing. Maklum udah lama ga bersua. Satu hal yang menarik dari pembicaraan kami itu, ketika topik beralih ke arah kebahagiaan dalam hidup, teman saya seperti ‘melompat’ pada kesimpulan bahwa ketika ada satu elemen yang kurang dalam kehidupan rumah tangga kita, maka kita tidak bahagia

Memang dia tidak secara spesifik mengatakan demikian, namun saya dapat menyimpulkan dari kalimat-kalimat pendek yang di ketikkannya pada layar. saya tidak berkomentar apa-apa, hanya memberikan simbol smiley. Saya tidak setuju dengan pendapat teman saya itu, tapi bukan saat yang tepat untuk membahasnya lewat chat sosial media.

Lalu saya mencoba bertanya kepada diri saya, sebenarnya apa sih kebahagiaan itu? Banyak definisi, banyak kata, banyak makna. Namun yang hakiki adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan. Sejatinya, kebahagiaan itu berbentuk ketenangan kalbu kalau saya boleh berteori.

Seseorang bisa saja terlihat berkecukupan, terkenal, rupawan, serta memiliki segudang atribut lain yang saat ini kerap disandangkan dan disejajarkan artinya dengan kebahagiaan. Namun, boleh kita tengok realitas yang ada, segudang atribut itu belum tentu membuat hati tentram. Membuat kalbu tenang.

Dilain pihak, bisa saja seseorang memiliki rentetan masalah, kesulitan hidup yang silih berganti, tetapi tetap merasakan ketenangan dalam kalbunya. Jenis orang seperti inilah yang saya anggap bahagia. Karena kesulitannya tidak menjadikan dia berkeluh kesah, masalahnya tidak menjadikan dia ‘hilang’ arah.
Lalu, bagaimanakah orang-orang ini dapat mencapai ketenangan jiwa begitu rupa? Apa yang hadir dalam hidup mereka? Apa yang mereka yakini? Apa yang membuat mereka bertahan? Nampaknya itu suatu hal yang mesti kita pertanyakan pada diri kita sendiri.

Rasanya bila kita sudah mampu mendefinisikan kebahagiaan sejati, sebagai konsep yang kita yakini dari hati, baru kita bisa bicara ke tatanan yang lebih rendah atau aplikasinya. Karena bila kita sendiri tidak tahu dan tidak sadar akan makna kebahagiaan itu sendiri, maka kita akan tersesat dalam mencari kebahagiaan.

Kita mengejar materi yang melimpah ruah, menghabiskan puluhan jam bekerja, untuk mencapai kebahaagian yang kita sangka berwujud finansial dan materi. Namun ketika kita sampai disana, kita merasa hampa. Karena sejatinya, belum tentu ini yang menjadi sumber kebahagiaan kita. Bagi orang lain, mungkin kecukukan materi sudah memenuhi kriteria kebahagiaannya. Namun belum tentu buat kita. Oleh karena itu, tentukanlah kebahagiaan kita, sebelum kita bergerak ke level aplikatif, rasakan dengan sebenar-benarnya, apa sesungguhnya yang membuat kita bahagia.

Apakah hati kita sudah penuh dengan kebahagiaan ketika kita berkumpul dengan keluarga? Merasakan hangatnya sinar mentari? Menghirup udara segar?

Walaupun terdengar sangat naif, tapi saya kira secara mendasar manusia sudah merasakan kebahagiaan dengan hal-hal kecil yang penting dalam hidupnya. Jadi, jangan sampai kita salah menilai bahwa hal-hal yang sifatnya pelengkap sebagai syarat utama kebahagiaan. Sudah cukup kita belajar berulang-ulang dari orang-orang yang mengalami kemalangan hidup hanya karena orang itu salah menempatkan dimana kunci kebahagiaannya.

–sari

3 thoughts on “Memeluk Bahagia

  1. Assalaamu’alaikum,

    Mbak Sari, boleh sya menambahkan, Bahagia itu bisa didapatkan dengan Dzikrullah.
    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *