Be careful of what you wish for!!

Sebenernya gak pingin nulis post ini, tapi daripada hati terus menjadi keruh dan nelangsa … I better tell this story to let my emotions go and forget them afterwards….

Bagi saudara dan teman-teman yang mengenal saya, mereka tahu saya adalah perempuan yang ‘ramai’. Dimanapun saya berada berada. Keramaian saya ini merupakan sifat alamiah saya yang berdasar pada kesenangan saya akan bercerita dan berkumpul serta berhubungan dengan manusia lain.

Keramaian ini juga terefleksi dari cara saya marah dan cara saya mengutarakan ketidaksukaan saya terhadap apapun. Cara saya, mungkin dianggap kasar dan ‘berisik’ bagi sebagian orang, merupakan bagian dari diri saya yang tidak pernah saya sesali sedikitpun. Dibalik suara keras saya, baik sedang tertawa ataupun marah, tidak pernah ada terselip perasaan yang begitu mendalam seperti dendam.

Bagi saya, marah adalah untuk saat itu, bagaikan langit yang menggemuruh lalu tenang kembali menjadi biru jernih. Saya mewarisi sifat ini dari kedua orang tua saya, yang dapat terperangkap pada debat yang amat menggelora untuk sesaat kemudian berangkulan dan saling mencium selamat tinggal kepada amarah bila mereka tersadar …..

Tapi tidak semua orang yang saya temui akan menyukai ini …..

Ketika SD, SMP dan SMA bahkan di bangku kuliah … saya menemukan satu atau dua orang yang nampaknya amat terganggu dengan cara saya. Biasanya, saya akan menjauh dari orang-orang seperti ini, karena bagi saya, menjadi orang yang disukai oleh semua orang yang mengenal kita adalah mustahil. Untuk menghindari konflik, biasanya saya akan menjauh. Secara naluriah insting saya selalu bekerja ketika menemukan orang semacam ini …. and off I go from that type of person.

Semakin dewasa, saya menyadari bahwa tidak selamanya saya dapat menjauh dan pergi tiap saya menemui orang-orang yang secara alamiah tidak menyukai cara saya ini. Pada akhirnya harus ada kompromi dari diri saya untuk mengurangi ‘keramaian’ saya untuk membuat orang-orang demikian di sekitar saya tidak terganggu.

Namun, seperti yang saya sudah saya sadari betul … bagaimanapun saya berusaha untuk meredam ‘keramaian’ saya, orang yang secara alamiah bertolak belakang sifatnya dengan saya akan merasa kesal bila harus berhadapan dengan orang seperti saya….

Dan terjadilah sebuah kejadian yang amat menyakiti hati saya …. kejadiannya sudah agak lama berselang, tapi luka lara yang ditimbulkannya akan selamanya membekas dihati …..

Bila yang disakiti itu saya, maka saya akan langsung melawan namun yang disakiti itu adalah keberadaan anak-anak saya, maka saya akan lebih meradang. Walau bukan secara fisik anak-anak saya disakiti, tapi entitas yang melambangkan keberadaan saya dan anak-anak saya, dibanting begitu rupa dengan perasaan marah, hanya karena terlihat berantakan dan mengotori ‘ruang suci’ untuk mengolah tubuh.

Dalam hidup saya, belum pernah saya merasakan dorongan untuk menghancurkan seorang manusia sekuat yang saya rasakan saat itu. Bila saat itu malaikat yang bertengger di dua bahu saya tidak mampu memeluk saya dengan erat dan membisikkan kalimat Allah “astaghfirullah” … maka saya yakin paling tidak sebuah pertengkaran besar akan terjadi di saat itu.

Sebagai pelampiasan, seorang bunda tua yang tak tahu menahu, yang bukan bagian dari keluarga saya menjadi curahan tangisan pilu saya. Sang bunda yang merasakan pilu seorang ibu, sebagai mana dirinya adalah seorang ibu hanya mampu mengingatkan saya untuk banyak beristighfar dan menjauhi pikiran kelam saya untuk melampiaskan rasa marah.

Hari berganti … namun saya masih belum merasakan kedamaian, tetap mengingat dan memutar rekaman memori yang menyakitkan pada hari itu, lalu saya menyerah untuk mengutarakan ganjalan hati ini pada ibunda yang melahirkan saya.

Di usia saya yang telah masuk kepala tiga ini, jarang sekali saya mengadu pada ibunda saya tercinta akan apa yang menyakiti hati anaknya ini. Tapi tanpa mengadupun, sang ibunda tercinta langsung merasakan getaran hebat di hati manakala putri tercintanya ini sedang dirundung sedih. Tanpa bermaksud apa-apa, hanya karena merasa duka lara tak terperi, saya bercerita pada bunda.

Tidak menginginkan pembalasan, tidak menginginkan pembelaan, hanya menginginkan sedikit ketengangan jiwa manakala amarah dan kesedihan telah dicurahkan. Harapan saya, luka akan sembuh dengan sentuhan berkah tangan ibunda yang merupakan perpanjangan tangan Sang Khalik Maha Pecinta itu sendiri.

Tapi, bunda yang teriris hatinya pun ternyata tidak bisa diam. Beliau hanya mengucapkan sepatah kata doa untuk keselamatan putrinya, jelas dimatanya ketidakrelaan atas perlakuan buruk yang diterima putrinya.

Apa yang terjadi? Bagaikan pembalasan yang dipercepat datangnya oleh Allah yang Maha Adil, wajah seorang yang menyakiti hati anaknya terciprat minyak yang dipanaskan oleh api milik Sang Pemilik alam ….terluka di beberapa tempat.

Saya tidak bersorak sorai dalam hati ketika mengetahui fakta ini. Di lubuk hati yang paling dalam, ada penyesalan kenapa saya harus mengadukan masalah duniawi ini pada ibunda yang menurut saya memiliki ‘jalur khusus’ dengan Sang Khalik karena taatnya beliau. Ah … seharusnya saya merasa senang sekarang, karena sakit hati saya terbalaskan secara kontan oleh Nya. Tapi ternyata saya tidak  merasa senang … saya hanya berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi orang tersebut akan tindakannya yang menyakiti hati orang lain …… saya hanya dapat berharap …. akan kepekaan nurani … akan kebersihan jiwa …

namun saya salah ….. hal yang sama sedang terjadi lagi ….

astaghfirullah …astaghfirullah … kali ini saya tidak akan mengadukan pada ibunda lagi ….. saya janji. Biarlah saya tanggung sendiri, biarlah sakit hati ini menjadi ladang amal yang dapat saya panen hari pembalasan kelak ……. amin amin ya rabbal ‘alamin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *