Taksi Jakarta

Fiuh, beberapa hari ini saya kudu naik taksi buat mobilitas. Sebab tank yang biasa dipake udah gak bisa ditolak lagi harus turun mesin (akhirnya), air radiator udah ngerembes masuk ke ruang bakar lewat paking cylinder head yang udah bocor. Saran dari mekanik, lebih baik jangan dipake daripada terjadi water hammer *waduh*

Ada beberapa informasi yang didapet dari hasil ngobrol sama pengemudi taksi (kebiasaan iseng ngorek informasi). Mulai pengemudi baru ampe yang udah lama, khususnya taksi BB.

Info pertama, taksi seharian muter-muter di Jakarta rata-rata konsumsi bensinya 20 literan, kira-kira setengah tangki bensin mobil dan selalu diisi penuh waktu pulang ke pool sambil pemeriksaan kondisi mobil. Jadi waktu besoknya dipake, udah tinggal jalan aja. Trus gimana kalo seandainya sampe bensinya habis? Padahal belum waktunya pulang ke pool. Si taksi boleh mengisi bensin di pool terdekat dari posisi terakhirnya. Tapi kejadiannya (kata pengemudinya) sampai dengan saat hari itu dia mengemudi belum pernah terjadi.

Info kedua, ada beberapa kategori taksi di BB ini:

  • Taksi yang hanya menggunakan argo, taksi ini tidak dapat order dari pusat. Jadi kerjaannya keliling kota Jakarta dan sekitarnya, sebutannya “orientasi” nyariin penumpang atau nongkrong di pangkalan. Yaitu tempat tunggu taksi BB entah di lokasi mall atau hotel.
  • Lalu ada lagi taksi yang ada argo dan ada radio komunikasi. Taksi ini yang bisa nerima order dari pusat, biasanya ditandai ada alat display di depan pengemudi (yang sering saya liat merknya FLEETY). Bisa dimonitor posisi dan status kosong atau isi taksinya. Di alat tersebut ada layar yang menampilkan informasi pemesan taksi dan tujuan (kalo gak salah ya). Selain itu juga menampilkan informasi lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya. Proses penunjukkan taksinya juga dimonitor dari pusat, jadi misalnya yang mesen ada di daerah Jati Padang, dari pusat akan mencari taksi kosong yang ada disekitar daerah Jati Padang.
  • Ada tipe satu lagi yang ada argo dan ada radio komunikasi. Bisa nerima order dari pusat, tetapi menggunakan sistem lelang. Jadi order pesanan ditawarkan ke taksi-taksi yang ada, nanti pengemudi yang memutuskan mau mengambil atau tidak.

Info ketiga, cerita pengemudi yang belum hafal jalan Jakarta. Dia akan minta diarahkan oleh penumpangnya (serasa membimbing ke jalan yang benar aja euy). Katanya, waktu dia pelatihan, mayoritas penumpang BB orang baik-baik *ehm*. Jadi jangan takut untuk minta diarahkan ke tujuan, ngaku aja kalo belum tau jalan ke tujuan. Intinya, jujur.

Info keempat, alat tadi yang ada di depan pengemudi (si FLEETY tadi) menampilkan poin pengemudi. Nyupir taksi ada poinnya juga lho, jadi kaya main game. Apabila pengemudi mengambil order dan sampai selesai mengantarkan penumpang sampai tujuan, mendapatkan poin 5. Lalu apabila pengemudi mengambil order, tetapi ternyata tidak bisa sampai ke lokasi penjemputan dalam waktu 15 menit (kalo gak salah) dan/atau membatalkan mengambil penumpang tersebut akan dipotong 15 poin. Beberapa kali melakukan hal tersebut, dikenakan pinalti tidak dapat order dalam 1 jam ke depan. Apabila diulangi lagi kelakuan tersebut, pinalti tidak dapat order 6 jam ke depan, dan seterusnya. Sampai mentok-mentoknya dipanggil menghadap bagian SDM kali ya.

Info kelima, penomoran seri taksi. Pool taksi BB bisa ditunjukkan dari awal huruf abjad pertama dari seri taksi. Jadi misalnya SE 1919, seri S itu poolnya ada di Halim (ini yang saya tau, lainnya nggak afal :P). Sedangkan abjad E nya menunjukkan dari grup apa, misalnya Pusaka Biru, atau Pusaka Lintas, atau Pusaka lainnya. Lalu empat angka di belakangnya untuk catatan nomor seri taksinya.

Info keenam, kurang tau ini apa untuk pengemudi yang baru-baru aja atau diaplikasikan untuk semua pengemudi. Setiap 2 kendaraan taksi, diserahkan ke 3 pengemudi. Ada juga untuk pengemudi yang sudah memiliki jam terbang tinggi, diberikan keleluasaan untuk memilih kendaraannya sendiri.

Info ketujuh, BB punya program insentif untuk para pengemudinya. Perhitungan insentifnya faktornya banyak. Mulai dari insentif per kendaraan sampai performance pengemudi itu sendiri.

Info kedelapan, pengemudi bisa minta mutasi. Pernah dapet pengemudi yang asalnya dari BB Bandung. Saya tanya kenapa kok pindah ke Jakarta? Katanya buat nyari pengalaman. Perbedaan yang mencolok katanya kalo di Bandung kudu jalan 20 rit untuk menutup setoran,sedangkan di Jakarta kurang dari 10 rit udah nutup. Tapi capek nya juga beda, beda jauh katanya. Trus kalo di Jakarta tinggalnya dimana? Di setiap pool katanya ada mess untuk pengemudinya, gratis. Tapi jangan dibayangin udah lengkap dengan furnitur segala, cuma bangsal buesar. Kalo butuh alas tidur, ada yang nyewain tikar.

Info kesembilan, pernah saya menggunakan taksi Express mesen via call center. Takjub juga pertama kali masuk ngeliat ada LCD 7″ di konsol tengah. Ada informasi nama, lokasi jemput, tujuan persis yang saya sampaikan via call center. *keren nih* LCD tersebut touch screen, ada status GPS, GSM, dan dua indikator lagi lupa untuk status apa gak begitu jelas. Katanya sih bisa buat nginternet segala dan aktifitas yang dilakukan di LCD itu terekam di pusat. Jadi kalo ada pengemudi iseng, dipake buat nginternet ke tujuan yang ngaco, tinggal nunggu panggilan supervisor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *