Fear of the Unknown

Okeh … tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Hanya menuliskan sesuatu yang nyata saya rasakan, itu saja.

Ceritanya, hari Senin yang lalu, sepulang mengajar, saya seperti biasa menunggu kendaraan umum yang lewat di depan UPM. Kondisi Gatsu super macet, tidak terlihat kendaraan umum yang biasa saya tumpangi diantara lautan kendaraan yang berdempet-dempet. Wah … panjang nampaknya penantian saya.

Ternyata benar, setelah hampir satu jam menunggu, sambil jalan sedikit-sedikit ke arah Mampang, akhirnya saya berhasil naik satu minibus ke arah tujuan rumah. Seperti yang sudah saya bayangkan, kendaraan ini penuh nuh, efek macet nih …

Sudah siap menerima nasib bahwa gak bakalan dapet tempat duduk. Ternyata benar, gak dapet, di koridor tengah minibus tersebut, orang sudah berjejal-jejal berdiri. Sial, pikir saya, bisa pegel juga nih berdiri sampai blok M. Ketika saya melayangkan pandangan ke arah bangku depan, saya lihat ada bangku kosong di sebelah wanita dengan jilbab lebar. AHA! rezeki saya nih! Mwahahahaha … seneng amat sih pada berjejal-jejal di tengah orang ada bangku kosong di depan! Hihiiiiiy … segera deh meluncur ke bangku tersebut.

Segera saya ucapkan permisiiiiii dan duduk di sebelah mbak ini, amannnn!!!! Setelah duduk, saya menengok ke teman seperjalanan saya. Di sinilah mulai muncul perasaan tidak enak. Mbak ini memakai jilbab lebar, bercadar, berkaus tangan lengkap.

Oke … so saya juga sebelumnya pernah bertemu dengan orang-orang yang mengenakan cadar, no biggie, tapi kenapa sama yang satu ini saya rada merinding? Nampaknya ketakutan saya muncul dari cara si mbak ini mengenakan her whole attire, jadi biasanya, orang2 yang bercadar pun saya masih bisa lihat mata mereka. Tapi, si mbak ini membungkus dirinya sedemikian sehingga matanya pun tidak terlihat.

Alamak … mulai deh pikiran aneh-aneh muncul, clingak-clinguk ke mbak tadi, liat dia bawa apa (tas besar? hitam? ah …. parno mulai muncul deh). Segera saya sms suami saya, sekedar laporan aja dengan perasaan saya yang kurang enak ini, mas Yud hanya reply “Kekekeke …bahkan ibupun parno yak. Efek psokologis terornya kerasa banget ya? Berdoa aja seperti biasa bu, insyaAllah selamat sampai tujuan. 😉 Lop yu ayang”

Hayah …. ternyata saya terkena efek psikologis pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini. Maafkan mbak, bukan saya suudzon sama anda, hanya saja, hal yang paling bikin saya resah, saya gak bisa lihat kedua mata mbak. Call me weird, tapi saya kalo udah bisa liat mata seseorang, bagaimanapun keadaannya saya masih bisa tenang sedikit. Setidaknya saya melihat bagian yang manusiawi dari seseorang.

Haduh …. maapkan, saya tidak mau berprasangka terhadap siapapun, ini hanya sekedar perasaan saya saja….. sekedar curhat.

2 thoughts on “Fear of the Unknown

  1. hehe. komen gw nggak nyambung, tp cuma mau bilang bhw gaya tulisan lo enak dibaca sar. harus banyak menulis, krn usia kreatif dan produktif manusia kan nggak panjang. apalagi lo, yg lugas dan mudah menulis, jangan disia2kan kemampuan ini.

    1. Hihihi …. makasihhhhhhhhh senang sekali dibilang gaya tulisan saya enak dibaca. Sekaligus malu, karena sangat tidak produktif. Hihihi … iya deh Ris, gue coba dikit-dikit mendisiplinkan diri untuk menulis.

      Kalo gue bikin academic writing, boleh dong di review? hihihihi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *