Hanya keledai yang jatuh dua kali di tempat yang sama …

donkey.jpg

Ehm …. *tersipu malu*

Nampaknya judul diatas mengena sekali kepadakuw. Ehm *sangat malu* jadi begini ceritanya … malam ini, adik iparku Ajeng datang dari Bandung. Lalu karena mas Yud harus rapat RT bersama Ayahanda, sementara Pak Prapto yang baik hati sudah pulang, maka dakulah yang bertugas menyupir menjemput adindakuw itu. Jadi, aku, mama, serta Neng Ayu pergi ke stasiun Gambir.

Ehm … sebelumnya daku sudah mengingatkan bahwa daku itu sering tersesat di Jakarta Raya ini, maklumlah kota metropolitan ini sangatlah besar ukurannya aaaaannnddd … I don’t know why but I never bother to memorize each tangled roads and streets (heuheuehueheuheue..). Jadilah kami berangkat tadi jam 18.30 WIB. Mama dan Ayu mungkin tidak percaya yah dengan statementkuw diatas, mereka pikir daku bercanda.

Ehhh…. kejadian deh

18.15 WIB — Kamar Tidur

“Setelah dari Stasiun Gambir belok ke kiri, melewati depan Istana Merdeka, lalu ke kiri lagi untuk kembali ke arah Sudirman”, mas Yud menunjuk peta yang-sudah-di-wanti-wanti-untuk-di-hafal. “OK BOSSSSS!!! Siapppppppp …..jawabkuw dengan sumringahhhhh *feel silly* lalu daku menyeletuk, eh eh eh … kalau adek terus sampai ada lampu merah selanjutnya lalu ke kanan kan jalan Juanda yagh? *yang ini yaQin BANGET..hihihihi*. Mas Yud lalu mengerenyit, ” Untuk apa ke Juanda?”, “OOOHhhh ndaaaaaakkk.. adek cuman inget aza disitu ada BAKORNAS” *pernah ngerjain project disitu uyyyyy*

“Tapi adek gak usah ke sana yah” tegas mas Yud sambil agak-agak khawatir. “OK baby” *mantabhhh nih jawabannya*

20.00 WIB — Depan Istana Merdeka

“….. seriussss ma? Ada ujiannya gituh? Wawwwww …. susah juga toh les piano itu” …” Errrrrr ….mbak” Ayu nyeletuk. “Kok jalannya makin lama, makin tidak dikenal ya?”. DUENGGGGGG ….. lampu merah depan Istana Merdeka baru saja dilewati, “aaaaaaaaaw … harusnya kita ke kiri yaaaaaaaaaaaaa” katakuw. “Ya sudah ndak apa-apa… lurus terus ke kanan jalan Juanda kok *TETEUPPPPP*. Ntar kita muter balik aza *DOOOOHHH malu bangettttttttttt ….penyakit lama kambuh neh*”. Hihihihihihi … masih bisa menyelamatkan mukakuw dari malu neh. Hihihihihi …….hihihihihi …..

Ketika selesai berputar kembali lagi ke depan Istana Merdeka daku jadi bimbang lagi. “Errrr….ini kekiri sekarang apa nanti setelah lampu merah ya?” tanyaku malu-malu. Jawaban tak pasti muncul dari Ajeng, “yang mana ya? …..hmmm hmmmm…” sementara Ajeng berpikir, daku mengambil inisiatif terus dan JRENG …JRENG ..JRENG … papan penunjuk jalan menunjukkan belokan itu ke arah tanah abang. DUEEEEEEENGGGG …… salaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh …… dan dengan malu-malu daku berkata “Kita muter Juanda lagi yaaaaaaaaaaaaaa ….de ja vous neh, kayaknya udah pernah lewat deh”. Kekekekekekekekeke ….. kita satu mobil langsung ketawa. Ternyata semua jadi ikut ragu-ragu sepertikuw … ah …. memang…Sari ….kamu …suka begitu deh …..

Huhahahahaha …all in all, it was a good night. We got to laugh together, hihihihihihihihihihihihihi …. *selalu mencari hikmah di setiap kejadian*

Pesan Moral: Simpulkanlah sendiri … kan kamu sudah dewasa 🙂

2 thoughts on “Hanya keledai yang jatuh dua kali di tempat yang sama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *