Circle ..

Tidak ada yang baru di bawah matahari dunia ini — Nurcholis Madjid

sedih.gifDan saya merasa itu hal yang benar. Apa yang terjadi hari ini merupakan pengulangan dari sejarah yang telah lampau. Seperti lingkaran, tanpa sadar kita semua mengulangi hal-hal yang sudah pernah dikerjakan oleh orang-orang sebelum kita. Mungkin ada sedikit improvisasi (karena konteks waktu dan tempat) but above all …. it’s all same -o ..same-o

Kenapa coba tiba-tiba mengutarakan hal seperti ini? Alasannya karena saya baru nonton DVD Kingdom of Heaven. Saya udah nonton filmnya, sementara DVD nya udah ke-3 kali and I cried each time … why? Karena di film itu digambarkan (aside from it’s characters history and authenticity) bagaimana manusia selalu mengatas namakan Tuhan untuk mencapai tujuannya.

The most profound driving force of human action is religion. Really? Or is it the way that people interpret the teaching of religion? Which one is more profound? How do you define faith? How do you know that you are not crossing the border of tolerance when practising your faith? Where does faith ends? ….

Berbagai pertanyaan ini terngiang-ngiang saat saya mengamati film tersebut.  Begitu fasih manusia  menyebut dan mengatakan bahwa hal yang dia lakukan adalah karena Tuhan. But will God value the action if it means hurting some one else? OR … memang sama sekali bukan Tuhan tujuannya, tapi hanya sekedar memenuhi ambisi pribadi dengan justifikasi Tuhan. Hal ini (tindakan mengatas namakan Tuhan) telah dilakukan manusia berulang-ulang kali. Sesuai dengan kutipan saya akan kata-kata Nurcholis Madjid di atas. Tidak ada yang baru di bawah matahari dunia ini.
Seperti lingkaran yang tak berakhir … selalu berulang…lagi … dan lagi … dan lagi …. We just don’t learn …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *