Reviving Compassion

At the time of a greater human connectivity, one thing seems to start lacking in each of us, compassion. Why did I arrive at this conclusion so willingly? A mere observation of how people are acting around me. At the age of superficiality, promoted by social media and the internet, there are people who show the best of their imagery may it be in real pictures or in their statuses, tweets and comments. At the same time, there are people who profoundly show the worst of their human traits, the hateful, prejudiced, and condescending ones.

Both behaviour, in my humble opinion, rooted in nature of internet users isolation. probably many studies has shown, that in the save bastion of one’s home and in the guise of anonymity, brazen insult does not seemed like a bad thing at all, compared to the ones that fly straight out of one’s mouth. But the pain inflicted upon others are real. So real that many people stopped talking to each other.

Even the egalitarian nature of the internet can sadly goes wrong. Being a person in the internet realm, you can send your most hateful comments to anyone. Some countries regulated this type of hate speech under their laws, that sometime leads to censorship, the exact opposite of what internet is supposed to be.

Now what are we suppose to do to encourage more positive outcome of our online time? Ironically I would suggest to disconnect. Stop being omnipresent online, reconnect with humanity, real ones that is. Get together with our friends and family without bothering to pose for a picture for later posts. Immerse in the reality, in the sounds, sights, smells of the real world. Refresh our social skills, and learn to understand people more. On top of everything, just be thankful that we are still alive to experience it all….

Memeluk Bahagia

happySaya baru aja chat via social media dengan teman kuliah yang udah lama ga ketemu. Kita bicara seputar rumah tangga, anak dan hal-hal yang baru saja terjadi di kehidupan masing-masing. Maklum udah lama ga bersua. Satu hal yang menarik dari pembicaraan kami itu, ketika topik beralih ke arah kebahagiaan dalam hidup, teman saya seperti ‘melompat’ pada kesimpulan bahwa ketika ada satu elemen yang kurang dalam kehidupan rumah tangga kita, maka kita tidak bahagia

Memang dia tidak secara spesifik mengatakan demikian, namun saya dapat menyimpulkan dari kalimat-kalimat pendek yang di ketikkannya pada layar. saya tidak berkomentar apa-apa, hanya memberikan simbol smiley. Saya tidak setuju dengan pendapat teman saya itu, tapi bukan saat yang tepat untuk membahasnya lewat chat sosial media.

Lalu saya mencoba bertanya kepada diri saya, sebenarnya apa sih kebahagiaan itu? Banyak definisi, banyak kata, banyak makna. Namun yang hakiki adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan. Sejatinya, kebahagiaan itu berbentuk ketenangan kalbu kalau saya boleh berteori.

Seseorang bisa saja terlihat berkecukupan, terkenal, rupawan, serta memiliki segudang atribut lain yang saat ini kerap disandangkan dan disejajarkan artinya dengan kebahagiaan. Namun, boleh kita tengok realitas yang ada, segudang atribut itu belum tentu membuat hati tentram. Membuat kalbu tenang.

Dilain pihak, bisa saja seseorang memiliki rentetan masalah, kesulitan hidup yang silih berganti, tetapi tetap merasakan ketenangan dalam kalbunya. Jenis orang seperti inilah yang saya anggap bahagia. Karena kesulitannya tidak menjadikan dia berkeluh kesah, masalahnya tidak menjadikan dia ‘hilang’ arah.
Lalu, bagaimanakah orang-orang ini dapat mencapai ketenangan jiwa begitu rupa? Apa yang hadir dalam hidup mereka? Apa yang mereka yakini? Apa yang membuat mereka bertahan? Nampaknya itu suatu hal yang mesti kita pertanyakan pada diri kita sendiri.

Rasanya bila kita sudah mampu mendefinisikan kebahagiaan sejati, sebagai konsep yang kita yakini dari hati, baru kita bisa bicara ke tatanan yang lebih rendah atau aplikasinya. Karena bila kita sendiri tidak tahu dan tidak sadar akan makna kebahagiaan itu sendiri, maka kita akan tersesat dalam mencari kebahagiaan.

Kita mengejar materi yang melimpah ruah, menghabiskan puluhan jam bekerja, untuk mencapai kebahaagian yang kita sangka berwujud finansial dan materi. Namun ketika kita sampai disana, kita merasa hampa. Karena sejatinya, belum tentu ini yang menjadi sumber kebahagiaan kita. Bagi orang lain, mungkin kecukukan materi sudah memenuhi kriteria kebahagiaannya. Namun belum tentu buat kita. Oleh karena itu, tentukanlah kebahagiaan kita, sebelum kita bergerak ke level aplikatif, rasakan dengan sebenar-benarnya, apa sesungguhnya yang membuat kita bahagia.

Apakah hati kita sudah penuh dengan kebahagiaan ketika kita berkumpul dengan keluarga? Merasakan hangatnya sinar mentari? Menghirup udara segar?

Walaupun terdengar sangat naif, tapi saya kira secara mendasar manusia sudah merasakan kebahagiaan dengan hal-hal kecil yang penting dalam hidupnya. Jadi, jangan sampai kita salah menilai bahwa hal-hal yang sifatnya pelengkap sebagai syarat utama kebahagiaan. Sudah cukup kita belajar berulang-ulang dari orang-orang yang mengalami kemalangan hidup hanya karena orang itu salah menempatkan dimana kunci kebahagiaannya.

–sari

Be careful of what you wish for!!

Sebenernya gak pingin nulis post ini, tapi daripada hati terus menjadi keruh dan nelangsa … I better tell this story to let my emotions go and forget them afterwards….

Bagi saudara dan teman-teman yang mengenal saya, mereka tahu saya adalah perempuan yang ‘ramai’. Dimanapun saya berada berada. Keramaian saya ini merupakan sifat alamiah saya yang berdasar pada kesenangan saya akan bercerita dan berkumpul serta berhubungan dengan manusia lain.

Keramaian ini juga terefleksi dari cara saya marah dan cara saya mengutarakan ketidaksukaan saya terhadap apapun. Cara saya, mungkin dianggap kasar dan ‘berisik’ bagi sebagian orang, merupakan bagian dari diri saya yang tidak pernah saya sesali sedikitpun. Dibalik suara keras saya, baik sedang tertawa ataupun marah, tidak pernah ada terselip perasaan yang begitu mendalam seperti dendam.

Bagi saya, marah adalah untuk saat itu, bagaikan langit yang menggemuruh lalu tenang kembali menjadi biru jernih. Saya mewarisi sifat ini dari kedua orang tua saya, yang dapat terperangkap pada debat yang amat menggelora untuk sesaat kemudian berangkulan dan saling mencium selamat tinggal kepada amarah bila mereka tersadar …..

Tapi tidak semua orang yang saya temui akan menyukai ini …..

Ketika SD, SMP dan SMA bahkan di bangku kuliah … saya menemukan satu atau dua orang yang nampaknya amat terganggu dengan cara saya. Biasanya, saya akan menjauh dari orang-orang seperti ini, karena bagi saya, menjadi orang yang disukai oleh semua orang yang mengenal kita adalah mustahil. Untuk menghindari konflik, biasanya saya akan menjauh. Secara naluriah insting saya selalu bekerja ketika menemukan orang semacam ini …. and off I go from that type of person.

Semakin dewasa, saya menyadari bahwa tidak selamanya saya dapat menjauh dan pergi tiap saya menemui orang-orang yang secara alamiah tidak menyukai cara saya ini. Pada akhirnya harus ada kompromi dari diri saya untuk mengurangi ‘keramaian’ saya untuk membuat orang-orang demikian di sekitar saya tidak terganggu.

Namun, seperti yang saya sudah saya sadari betul … bagaimanapun saya berusaha untuk meredam ‘keramaian’ saya, orang yang secara alamiah bertolak belakang sifatnya dengan saya akan merasa kesal bila harus berhadapan dengan orang seperti saya….

Dan terjadilah sebuah kejadian yang amat menyakiti hati saya …. kejadiannya sudah agak lama berselang, tapi luka lara yang ditimbulkannya akan selamanya membekas dihati …..

Bila yang disakiti itu saya, maka saya akan langsung melawan namun yang disakiti itu adalah keberadaan anak-anak saya, maka saya akan lebih meradang. Walau bukan secara fisik anak-anak saya disakiti, tapi entitas yang melambangkan keberadaan saya dan anak-anak saya, dibanting begitu rupa dengan perasaan marah, hanya karena terlihat berantakan dan mengotori ‘ruang suci’ untuk mengolah tubuh.

Dalam hidup saya, belum pernah saya merasakan dorongan untuk menghancurkan seorang manusia sekuat yang saya rasakan saat itu. Bila saat itu malaikat yang bertengger di dua bahu saya tidak mampu memeluk saya dengan erat dan membisikkan kalimat Allah “astaghfirullah” … maka saya yakin paling tidak sebuah pertengkaran besar akan terjadi di saat itu.

Sebagai pelampiasan, seorang bunda tua yang tak tahu menahu, yang bukan bagian dari keluarga saya menjadi curahan tangisan pilu saya. Sang bunda yang merasakan pilu seorang ibu, sebagai mana dirinya adalah seorang ibu hanya mampu mengingatkan saya untuk banyak beristighfar dan menjauhi pikiran kelam saya untuk melampiaskan rasa marah.

Hari berganti … namun saya masih belum merasakan kedamaian, tetap mengingat dan memutar rekaman memori yang menyakitkan pada hari itu, lalu saya menyerah untuk mengutarakan ganjalan hati ini pada ibunda yang melahirkan saya.

Di usia saya yang telah masuk kepala tiga ini, jarang sekali saya mengadu pada ibunda saya tercinta akan apa yang menyakiti hati anaknya ini. Tapi tanpa mengadupun, sang ibunda tercinta langsung merasakan getaran hebat di hati manakala putri tercintanya ini sedang dirundung sedih. Tanpa bermaksud apa-apa, hanya karena merasa duka lara tak terperi, saya bercerita pada bunda.

Tidak menginginkan pembalasan, tidak menginginkan pembelaan, hanya menginginkan sedikit ketengangan jiwa manakala amarah dan kesedihan telah dicurahkan. Harapan saya, luka akan sembuh dengan sentuhan berkah tangan ibunda yang merupakan perpanjangan tangan Sang Khalik Maha Pecinta itu sendiri.

Tapi, bunda yang teriris hatinya pun ternyata tidak bisa diam. Beliau hanya mengucapkan sepatah kata doa untuk keselamatan putrinya, jelas dimatanya ketidakrelaan atas perlakuan buruk yang diterima putrinya.

Apa yang terjadi? Bagaikan pembalasan yang dipercepat datangnya oleh Allah yang Maha Adil, wajah seorang yang menyakiti hati anaknya terciprat minyak yang dipanaskan oleh api milik Sang Pemilik alam ….terluka di beberapa tempat.

Saya tidak bersorak sorai dalam hati ketika mengetahui fakta ini. Di lubuk hati yang paling dalam, ada penyesalan kenapa saya harus mengadukan masalah duniawi ini pada ibunda yang menurut saya memiliki ‘jalur khusus’ dengan Sang Khalik karena taatnya beliau. Ah … seharusnya saya merasa senang sekarang, karena sakit hati saya terbalaskan secara kontan oleh Nya. Tapi ternyata saya tidak  merasa senang … saya hanya berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi orang tersebut akan tindakannya yang menyakiti hati orang lain …… saya hanya dapat berharap …. akan kepekaan nurani … akan kebersihan jiwa …

namun saya salah ….. hal yang sama sedang terjadi lagi ….

astaghfirullah …astaghfirullah … kali ini saya tidak akan mengadukan pada ibunda lagi ….. saya janji. Biarlah saya tanggung sendiri, biarlah sakit hati ini menjadi ladang amal yang dapat saya panen hari pembalasan kelak ……. amin amin ya rabbal ‘alamin.

 

 

Tentang Aku

Tulisan ini terinspirasi ketika mendengarkan lagu Hisaishi (Path of the wind) ini berulang-ulang:

aku berdiri diatas bumi yang telah diciptakan begitu sempurna
aku berjalan diantara begitu banyak makhluk-Nya yang tak ku abaikan
diantara bakteri, virus, bermacam jamur, makhluk-makhluk renik yang tak kuanggap
diantara miyaran nyawa yang hidup ... yang bukan dari kaumku manusia

tak ku ketahui ketika aku mencabut dedaunan akibat keisenganku, aku melukainya ...
tak ku sadari ketika ku menginjak makhluk-makhluk kecil, menggerusnya ke tanah ... aku membunuhnya
tak ku sadari ketika aku membuang sampah, mengotori sungai, merusak tanah ...
aku ... menghancurkan kehidupan ..

yang bukan milikku ...
yang tidak ku ciptakan ...
yang tak mampu aku buat sendiri ...

aku telah hidup begitu lama .. menurutku
tapi ... ternyata pohon-pohon di halaman belakang rumahku telah ada semenjak ayahku dilahirkan

aku merasa telah banyak tahu akan kehidupan
dari pengamatan puluhan tahun hidupku ..
merasa memiliki kebijakan seorang filsuf ...

tapi ... apakah sama
dengan sebatang pohon, yang telah menyaksikan tingkah polah manusia selama ratusan tahun
yang tetap diam, menyebut namaNya ....
tanpa berhenti ...

aku merasa telah arif
tapi ... apakah sama
dengan makhluk renik lainnya yang telah ada semenjak bumi ini menjadi
yang tetap diam, menyebut namaNya
tanpa berhenti ...

aku merasa memiliki bumi ini
tapi ... apakah sama
dengan makhluk lainnya ... yang ku abaikan keberadaannya, yang telah ada sejak nenek moyangku belum dilahirkan
yang tetap diam, menyebut namaNya
tanpa berhenti

ah ....
aku malu ....
malu sejadinya ...

ketika akalku ...
tidak menjadikanku ... lebih peka
tidak menjadikanku ... lebih bijaksana

rasakanlah ...
rasa malu itu kawan ...
rasa rendah diri itu saudaraku ...
ketika kau dihadapkan pada kekuatan alam yang menghadang.

adakah kau mampu menghentikan badai yang bergerak?
adakah kau mampu menghentikan halilintar yang merobek langit?
adakah kau mampu menghentikan terjangan ombak?
adakah kau mampu mengubah arah hembusan angin?
adakah kau mampu mengubah arah mengalirnya sungai?
adakah kau mampu menghidupkan kembali hutan yang telah kau bakar?
adakah kau mampu menghipukan kembali spesies yang telah kau punahkan?
adakah kau mampu menghentikan pergerakan air laut, yang ternyata membutuhkan puluhan tahun untuk bergerak mengitari bumi ini?
adakah kau mampu menutup lubang-lubang ozon yang telah kau ciptakan?

tidak ...
tidak mampu ...
tidak bisa ...

Taksi Jakarta

Fiuh, beberapa hari ini saya kudu naik taksi buat mobilitas. Sebab tank yang biasa dipake udah gak bisa ditolak lagi harus turun mesin (akhirnya), air radiator udah ngerembes masuk ke ruang bakar lewat paking cylinder head yang udah bocor. Saran dari mekanik, lebih baik jangan dipake daripada terjadi water hammer *waduh*

Ada beberapa informasi yang didapet dari hasil ngobrol sama pengemudi taksi (kebiasaan iseng ngorek informasi). Mulai pengemudi baru ampe yang udah lama, khususnya taksi BB.

Info pertama, taksi seharian muter-muter di Jakarta rata-rata konsumsi bensinya 20 literan, kira-kira setengah tangki bensin mobil dan selalu diisi penuh waktu pulang ke pool sambil pemeriksaan kondisi mobil. Jadi waktu besoknya dipake, udah tinggal jalan aja. Trus gimana kalo seandainya sampe bensinya habis? Padahal belum waktunya pulang ke pool. Si taksi boleh mengisi bensin di pool terdekat dari posisi terakhirnya. Tapi kejadiannya (kata pengemudinya) sampai dengan saat hari itu dia mengemudi belum pernah terjadi.

Continue reading “Taksi Jakarta”

Can’t Launch GCompris on Natty – Guide For Noob Mom

I upgraded my son’s PC from Maverick to Natty. After upgrade process, turns out that his favorite education suite, which is GCompris, can no longer run on Natty. The application menu and the shortcut doesn’t work. This was probably caused by the switched from Gnome to Unity as the default desktop environment.

In my case, the application is still installed (some people have reported bugs after upgrading that removed the application or some part of it), but it won’t lauch. So, after some googling I found information from here that the application can run via the terminal command. Great! I try it and tadaaaa … it works.

I know that my son won’t be able to run GCompris via terminal (yet). So I decided to create a launcher on the Desktop. Here’s how

1. Right click anywhere on the Desktop and click Create Launcher …

2. Fill in the Name box with “GCompris”

3. Fill in the Command box with “gcompris &”

4. Klik OK

That’s IT! My son is napping now, I hope he will be excited when he wakes up this afternoon finding his favorite application back.

Fear of the Unknown

Okeh … tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Hanya menuliskan sesuatu yang nyata saya rasakan, itu saja.

Ceritanya, hari Senin yang lalu, sepulang mengajar, saya seperti biasa menunggu kendaraan umum yang lewat di depan UPM. Kondisi Gatsu super macet, tidak terlihat kendaraan umum yang biasa saya tumpangi diantara lautan kendaraan yang berdempet-dempet. Wah … panjang nampaknya penantian saya.

Ternyata benar, setelah hampir satu jam menunggu, sambil jalan sedikit-sedikit ke arah Mampang, akhirnya saya berhasil naik satu minibus ke arah tujuan rumah. Seperti yang sudah saya bayangkan, kendaraan ini penuh nuh, efek macet nih …

Sudah siap menerima nasib bahwa gak bakalan dapet tempat duduk. Ternyata benar, gak dapet, di koridor tengah minibus tersebut, orang sudah berjejal-jejal berdiri. Sial, pikir saya, bisa pegel juga nih berdiri sampai blok M. Ketika saya melayangkan pandangan ke arah bangku depan, saya lihat ada bangku kosong di sebelah wanita dengan jilbab lebar. AHA! rezeki saya nih! Mwahahahaha … seneng amat sih pada berjejal-jejal di tengah orang ada bangku kosong di depan! Hihiiiiiy … segera deh meluncur ke bangku tersebut.

Segera saya ucapkan permisiiiiii dan duduk di sebelah mbak ini, amannnn!!!! Setelah duduk, saya menengok ke teman seperjalanan saya. Di sinilah mulai muncul perasaan tidak enak. Mbak ini memakai jilbab lebar, bercadar, berkaus tangan lengkap.

Oke … so saya juga sebelumnya pernah bertemu dengan orang-orang yang mengenakan cadar, no biggie, tapi kenapa sama yang satu ini saya rada merinding? Nampaknya ketakutan saya muncul dari cara si mbak ini mengenakan her whole attire, jadi biasanya, orang2 yang bercadar pun saya masih bisa lihat mata mereka. Tapi, si mbak ini membungkus dirinya sedemikian sehingga matanya pun tidak terlihat.

Alamak … mulai deh pikiran aneh-aneh muncul, clingak-clinguk ke mbak tadi, liat dia bawa apa (tas besar? hitam? ah …. parno mulai muncul deh). Segera saya sms suami saya, sekedar laporan aja dengan perasaan saya yang kurang enak ini, mas Yud hanya reply “Kekekeke …bahkan ibupun parno yak. Efek psokologis terornya kerasa banget ya? Berdoa aja seperti biasa bu, insyaAllah selamat sampai tujuan. 😉 Lop yu ayang”

Hayah …. ternyata saya terkena efek psikologis pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini. Maafkan mbak, bukan saya suudzon sama anda, hanya saja, hal yang paling bikin saya resah, saya gak bisa lihat kedua mata mbak. Call me weird, tapi saya kalo udah bisa liat mata seseorang, bagaimanapun keadaannya saya masih bisa tenang sedikit. Setidaknya saya melihat bagian yang manusiawi dari seseorang.

Haduh …. maapkan, saya tidak mau berprasangka terhadap siapapun, ini hanya sekedar perasaan saya saja….. sekedar curhat.

Updates! Curhat!

Hihihihi …. gaya banget yah judulnya

Ehemmm….. memang blog ini rada-rada terlantar ya. Duhhhh … untung ada sahabat saya yang ngingetin untuk update. Hihihihi thank’s Ris.

Sebenernya, ide untuk nulis itu banyak datang, tapi biasanya datangnya jam segini nih, dini hari, dikala the krucils udah tidur, nyenyak dan saya bisa berlama-lama di depan PC. Tapi biasanya saya pun udah terlelap jam segini karena capek seharian main sama anak-anak.

Okelah, saya mau update sedikit tentang the Ganeshas, kami semua baik-baik saja, alhamdulillah … saya dan mas Yudi masih terus belajar untuk menyesuaikan diri dan berkembang bersama anak-anak kami. Kalau boleh saya curhat, satu hal yang paling berat dilakonin sebagai orangtua adalah memberikan contoh yang baik.

Hehehehe … ternyata gak gampang ya untuk melakukan sesuatu itu ‘dengan benar’ sebagai contoh, setiap berangkat ngajar, jika naik kendaraan umum, saya harus memaksa diri untuk turun di halte yang jaraknya masih sekitar 200 meter dari kampus. Kenapa? Walaupun bisa aja berhenti di tengah jalan dan langsung nyebrang ke arah kampus seperti yang dilakukan oleh orang lain, tapi saya berkata sama diri sendiri dan mencoba untuk menyemangati diri, “kalau saya gak melakukan hal yang benar … bagaimana saya bisa mengajarkan anak-anak saya akan hal yang benar?”

Semangat itu pula yang saya tekankan di kepala saya setiap kali ada pilihan antara ‘the quick and easy‘ dan ‘the right thing to do‘ dalam melakukan apa saja. Jangan sampai, karena keinginan saya untuk cepat dan mudah, saya mengabaikan fakta bahwa apa yang saya lakukan akan ditiru dan diulangi oleh anak-anak saya. Bicara tentang meniru …. aduhhh anak-anak ini adalah jagoannya dalam menyerap apa saja yang ada di lingkungan mereka. Mereka ini bagai sebuah spons super besar yang menyerap apa saja, baik maupun buruk dari orang-orang dan lingkungan mereka.

Ternyata tidak mudah untuk selalu menyadari bahwa ada ‘penyerap informasi’ aktif … yang memperhatikan serta meniru apa saja yang kita lakukan. Setelah saya menjadi ibu, saya sadar banyak sekali hal-hal yang tidak saya lakukan dengan ‘benar’. Hal inilah yang selalu menjadi tantangan bagi saya, untuk saya perbaiki sedikit demi sedikit agar anak-anak saya nanti bisa mencontoh dan (harapan saya) menjadi manusia yang lebih baik daripada saya. Menjadi orangtua ternyata juga menjadi proses untuk  ‘belajar kembali’ akan banyak hal dalam hidup….. =)

Beyond Diapers Changing (To the husband and father)

Tulisan ini sangat mengena banget nih … saya ambil dari Notes di FB milik Pak Ebi Junaidi. Notes aslinya ada di sini

Masih ingat ndak malam-malam sepulang kerja dan rumah seperti kapal pecah, berantakan dan kotor. Berharap bisa “meluruskan punggung”, tapi ternyata anak-anak malah belum tidur dan merengek minta ini dan itu, termasuk digendong, diangkat sampe mencapai langit-langit rumah. Berkeinginan ada setidaknya secangkir teh hangat dengan madu dan sedikit lemon would be perfect. Kadang terbit khayalan di rumah istri sudah dandan poll dan menyiapkan air hanget untuk mandi dan message oil beraroma terapi dan siap memijat badan yang pegel-pegel sepulang kerja. Mendamba a decent food untuk mengisi perut yang kosong karena saking sibuknya ndak sempat makan di kantor. Atau sesederhana sang istri bertanya “how was your day?”, “have you got dinner?”. Atau…..punya ekspektasi untuk begitu pulang bisa penuh konsentrasi dengan baju rumahan yang lebih nyaman bisa segera menghadap laptop menyelesaikan kerjaan yang deadline besok pagi, jadi semua akan mahfum jika kita akan khusuk di meja kerja, ruang baca atau apapun yang jadi “gua sakral“ sang penopang keluarga.

Kadang kita, laki-laki, apalagi yang punya istri full sebagai ibu rumah tangga, berfikir (kasarnya) “Hellooo….gw udah capek kerja di kantor…kok di rumah ndak bisa nyantai-nyantai sich…. Ndak tahu apa capeknya kerja, tekanan deadline, harapan bos, kejamnya office politics, and not to mention performance appraisal yang kudu nentuin bonus.” Toch itu semua khan buat keluarga. Istri dan anak-anak…buat mastiin kredit rumah dan mobil bulan ini terbayar dan bisa nyekolahin anak di sekolahan yang katanya bagus dengan biaya pendaftaran bisa beli dua motor keluaran terbaru dan liburan ke tempat-tempat eksotik. Dan sang istri khan “cuma” ngurusin satu dua atau hitungan jari anak lainnya. “Why can’t I please get a bit of the so called support?” “Didn’t I deserve it after what I did out there in the office?” And didn’t she know that the world is so much tiring out there?

Kebanyakan kita, para suami dan ayah, berfikir it is just easy to be a woman-in-charged at home untuk istri kita. And yes… isn’t it part of their nature installed as they give a birth to a child or even worse isn’t it something natural in their gene? Hehehe.. They are borned to be those who handle all those things at home and yet have to be  very representable to be introduced as our wife to our respective colleagues. Kedengarannya selfish, sangat patriarki, non-feminis atau disebut apalah, tapi memang disebagian kita sering muncul fikiran seperti itu….. terlintas…..dibisikkan setan ataupun merupakan kepercayaan umum di masyarakat kita.

Saya mendapatkan previllage oleh Allah untuk merasakan sebagai person-in-charged di rumah and how hard it is to handle things at home. I have to admit, this is the very most harderst work I have ever took. Sederhananya, sebulan pertama, saya selalu KO tepat jam 6 sore, kadang tanpa sempat menyentuh makam malam. Badan sampai ndak bisa bergerak seperti habis “training session” weight lifting club dulu waktu mahasiswa di Melbourne. Nyaris ndak bergerak sama sekali hingga subuh keesokan paginya. Padahal waktu itu wawa masih sekolah, jadi dari jam 8.30-4.30, nyaris hanya butuh menjaga Qiyya yang berusia 1 tahun 3 bulan. Secara fisik, cuapek poll…mulai nyiapin dan makein baju wawa sekolah, sarapan pagi bocah-bocah, antar jemput ke sekolah (untungnya disini bapak2 antar jemput sekolah adalah pandangan yang biasa, jadi ndak kudu merasa aneh laki sendirian di tengah omak-omak Prancis ;)), bersih ini dan itu,  pengen masak enak (walaupun anak dan istri ndak pernah mensyaratkan rasa tertentu, di kamus mereka hanya ada 2 kategori: enak dan enak sekali, Alhamdulillah), rutinitas masukin baju ke mesin cuci, jemur, angkat, belanja harian ke marche, nyiapin dan kadang nyuapin makan siang Qiyya. Semuanya kedengaran biasa dan simple, tapi melakoninya..sungguh mendingan nyetir seharian sampai malam dari Bogor keliling Jakarta ngurusin semuanya tetek bengek beasiswa sebelum keberangkatan atau ngajar seharian penuh, plus naek kereta ke salemba ngejar ngajar extension.

Secara mental…ini yang berat banget… I mean kerjaan ini ndak ada yang bakal ngelihat performance, tampil di publik atau at least dihadapan mahasiswa, jadi kelurusan niat dan keihklasan jadi tameng yang paling kena serang. Tapi yang paling berat adalah berhadapan dengan anak-anak yang ndak selalu mereka manis dan manut. They simply sometimes just being unique. But you sometimes found  that they are challanging you, testing you. Nangis ndak mau sekolah, pipis dan pupup dimana aja dan sesuka kapannya, numpahin A, B atau C ke pakaian terbaik kamu, atau menghancurkan mainan yang dulu adalah mainan idamanmu waktu kecilmu tapi ndak pernah kamu miliki dan membelinya dengan nabung dulu, ndak mau ndengarin kata, perintah, saran, nasehat ayahnya (come on hey…they are just kid, not adult like your teaching assistant or secretary, for God’s sake). But again, you sometimes just can’t handle it when you feel you’ve been telling them thousand of times and why in the world they don’t get it? Belum lagi kalo you feel being humiliated in public, because they don’t want to use the seat belt in your friends’ car, they cried out loud at school and don’t behave they are “supposed to be expected” or do things one way or another just make you feel embarrased. But the worse ever is when once you lose you control, not necessarily hurting them with your hand (Allah…please never let me ever once commit it to my love ones),but a higher tone of voice or a thread or simply when you just run somewhere and hit something just to lose your emotion without your kid’s notice. And….several minutes after…it was just penyesalan yang amat sangat dalam. Rasa bersalah yang sangat mampu membunuhmu. Dan perasaan that “I am not a good father”… and hantaman-hantaman realitas bahwa mereka begitu karena kita yang memberikan contoh yang tidak baik, lingkungan yang tidak mendukung dan gen yang mengalir dalam darahnya. Bukannya mereka terlahir fitrah…. But again,semuanya serasa mudah dan remeh sekali rasanya, kok bisa mengatakan ini sangat emotionally-tiring? I tell you bro…. ketika melakoninya dunia ini seakan tertutup dan logika orang dewasa yang cerdas manapun kadang kalah oleh kejengkelan yang membakar kepala. Kalo ndak ingat betapa Rosul sayang sama anak kecil, yang bahkan menegur orang tua yang “merenggut’ anaknya dari gendongan Rasulullah karena buang air kecil di pangkuan Rosul (dengan mengatakan, Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”) rasanya udah keluar Medanku ini hehe ;). Dan ketika itulah jika pasangan tiba2 menghubungi (dgn nelpon atau apalah) rasanya terselamatkanlah diri dan anak-anak ini (sekarang dech baru bisa  mengerti, kenapa si bunda minta di telpon kalo lagi senggang di kantor, atau tiba-tiba nelpon pas kita lagi repot2nya kerja). But omak-omak sedunia, man are not having those multitasking brain, jadi juga jangan berkecil hati kalo mereka cuma menjawab he-eh, iya…as if they don’t put their full attention to your need-to-be-rescued-call ya…

And for bapak2 sedunia, we are not having those previlage of having multitasking brain, but we do have multi-windows  heart (apa pulak lagi artinya ini), use it wisely! 😉

Then I learn that, something small can be so meanigful for those who’ve been at home 24/7. hadiah umpamanya, surprised2 ringan. Oh ya, Rasulullah membiasakan kalau keluar kota, dalam perjalanan yang agak jauh, beliau pulang membawa oleh-oleh sebagai hadiah untuk istri beliau. Pernah Rasulullah saw. tidak ada yang bisa dibeli, kemudian beliau mencari batu di padang pasir terus dibersihkan, dirapiin, terus dikasihkan kepada Aisyah.

Nabi juga ngerjain kerjaan rumah. Nah ini yang terasa sekali. Most of the time, ketika pulang kita malah minta dilayani, bukan membantu melayani. Weekend dan hari libur jadi “me-day”…hehehe. Padahal Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari).

Kalo begini jadi ingat babak (panggilan untuk Bapak di keluarga kami), yang merantau kemana-mana (hingga jadi TKI gelap di Malaysia) demi mamak dan kami anak2nya. Dan dia setiap sebelum berangkat kerja menyapu rumah, kadang ikut nyuci berdua mamak di hari minggu. Belum lagi waktu mamak lumpuh dan aku masih kecil sekali (kata tetangga waktu itu aku seperti bayi Ethiopia yang amat sangat cungkring tak berpan**t, sampai dipanggil si pan**t tepos, dan pernah ketemu lagi dgn tetangga itu yang terkejut melihat saya bisa tinggi dan punya hidung besar ;)) , harus masak, memandikan mamak ke kamar mandi dengan menggendongnya, menyuapinya sebelum berangkat ke tempat kerja. Untuk ukuran laki-laki padang jaman bahela (pariaman lebih tepatnya!) yang bahkan pemandangan laki-laki menggendong anak saja sudah sangat berkurang kemaskulinannya (ini tahunya dari tante Eva mathon ;)), apalagi minimnya contoh (kakekku seorang yang “terpaksa” memiliki istri 12 karena beliau diminta sama orang2 diberbagai kampung untuk menikahi anak-anak mereka (well, dia pendekar, jadi orang-orang ingin bermenantukan dia untuk melindungi keluarganya dan menigkatkan “gengsi” keluarga. walaupun nenek adalah yang selalu menjadi utama. Oh ya, nenek gw juga pendekar, surprisingly, dan punya rekor mengalahkan laki-laki2 biadab yang hendak menyerobot warisan kakek hingga mereka terpu**p-p*p*p…ah inimah nanti aja ceritanya, di epik yang lain kali ya…), apalagi kata orang-orang dia tampan, putih, tinggi, jago silat (kalo kataku lebih dari itu…tapi btw, kok ndak ada nurun2nya ke gw ya… hicks!), dia sudah memberikan contoh yang sangat cukup untukku. Love you, babak….very much (andl love my mamak even more ;)).

Anyway, cukuplah dua nasehat ini menjadi pelita dalam kegelapan (aduh…jadi ingat lagu hymne guru ye…) sementara mencari-cari ilmu lainnya:

1. “Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya (HR. At-Trimidzi)
2. Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”.

Makanya sayangilah banget2 istri yang ibu rumah tangga….. lebih sayang lagi kalo suaminya yang sementara jaga kandang ngurusin rumah…,.nah lho…hehehe

You Are What You Write

Consider this: the only thing anyone knows about you on the Internet comes from what you write, or what others write about you. You may be brilliant, perceptive, and charismatic in person—but if your emails are rambling and unstructured, people will assume that’s the real you. Or perhaps you really are rambling and unstructured in person, but no one need ever know it, if your posts are lucid and informative.

Devoting some care to your writing will pay off hugely. Long-time free software hacker Jim Blandy tells the following story:

Back in 1993, I was working for the Free Software Foundation, and we were betatesting version 19 of GNU Emacs. We’d make a beta release every week or so, and people would try it out and send us bug reports. There was this one guy whom none of us had met in person but who did great work: his bug reports were always clear and led us straight to the problem, and when he provided a fix himself, it was almost always right. He was top-notch.

Now, before the FSF can use code written by someone else, we have them do some legal paperwork to assign their copyright interest to that code to the FSF. Just taking code from complete strangers and dropping it in is a recipe for legal disaster.

So I emailed the guy the forms, saying, “Here’s some paperwork we need, here’s what it means, you sign this one, have your employer sign that one, and then we can start putting in your fixes. Thanks very much.”

He sent me back a message saying, “I don’t have an employer.”

So I said, “Okay, that’s fine, just have your university sign it and send it back.”

After a bit, he wrote me back again, and said, “Well, actually… I’m thirteen years old and I live with my parents.”

Source: http://producingoss.com